Rabu, 15 Mei 2013
Puisi Untukmu
hariku berasa seperti biasa
aku tak berharap seperti mereka
ditemani dengan hati yang gembira
aku melangkah kedepan menatap cahaya
dan tibalah sebuah masa
dimana aku tertawa
dan termenung
menunggumu
terharaplah sebuah kata
yang berkata bahwa dia
akan menjadi indah
dan menjadi yang terindah
waktu menuntunku kedalamnya
tak terduga semua rasa
datang menjadi asa
dan tiba
tak pernah aku membayangkannya
bahkan sebelum aku pernah mengenalnya
dia terlihat indah
bahkan seindah ramadhan yang jarang tiba
berlian itu berjalan didepanku
menatap aku yang diam terpaku
meleleh hati ini dengan tatapanmu
semua berlalu seiring berjalannya waktu
ada rasa untuk berkata
namun ku pendam rasa itu walau sekadar tertawa
sebuah kata yang ingin aku katakan
"kau sangat cantik hari ini"
Kamis, 02 Mei 2013
Ujian Nasional
hai guys. kembali lagi. gw mau ngepost lagi nih pengalaman gw tentang ujian nasional yang tanggal 15 April kemarin diadakan. just an experience right.. enjoy it.
UJIAN NASIONAL
Minggu malam senin, 14 April
2013. Adalah sebuah malam panjang yang pernah kurasa didalam hidupku. Jarum
kecil nan ramping di jam dinding itu seakan-akan sangat malas melangkah ke
detik berikutnya, sehingga menyebabkan waktu malam menjadi sangat lama bagiku,
dan mungkin bagi semua siswa-siswi kelas tiga yang berada diseluruh pelosok
negeri ini. Malam itu sangat dingin. Hujan. Memang sedari siang langit sudah
menumpahkan air berkahnya di bumi Padjajaran ini. Ambigu. Hujan itu membuatku
bingung apakah ini pertanda langit menangis melihat derita seluruh anak-anak
Indonesia yang belum siap untuk menghadapi ini. Ataukah ini adalah berkah yang
diturunkan oleh Sang Maha Pembuat Soal kehidupan supaya selalu berdoa dan
berusaha agar melakukan yang terbaik untuk ujian itu. Ya, kadang hujan menjadi
satu pertanda bagus untuk sesuatu yang kadang kita tidak pernah mengerti dan
membayangkan apa yang akan terjadi kedepannya.
Tak ada satu halpun yang dapat
aku lakukan dihari yang sepi itu. 14 April mungkin telah menjadi hari
terpanjang yang pernah aku rasakan. Betapa tidak, otakku tak
henti-hentinya berfikir dan mengira apa yang akan terjadi besok. Satu. Ya,
hanya satu yang sangat aku takutkan terjadi besok. Sebuah hal yang membuatku
tidak dapat berfikir jernih sejernih air danau yang ada di samping sekolahku
itu. Aku takut jika pikiranku menjadi kacau ketika sedang mengerjakan ujian.
Aku tahu kalau semua itu hanyalah sebuah taktik setan yang akan membuatku
menjadi lemah, sehingga aku hanya berkata didalam hati “astagfirullah” seraya
melihat keatas seakan-akan meraba dan mencari sebuah Zat yang kurasa Dialah
yang paling berhak untuk kupinta pertolongan.
Bangsat. Memang sudah menjadi
sifat setiap manusia yang hidup di bumi ini untuk menjadi bangsat. Ya, semuanya
tak terkecuali, bahkan seorang ulamapun juga pernah melakukan ini walau
frekuensinya lebih sedikit dari orang kebanyakan. Semua manusia memang
dilahirkan dengan kadar mengeluh yang tinggi. Bagi manusia yang mempunyai
keyakinan, mereka akan mengadu dan menangis terseduh-seduh kepada Tuhan mereka.
Dan bagi manusia yang tidak mempunyai keyakinan mereka hanya mengadu dengan
cara berfikir menurut pemikiran sesat mereka. Ya itulah kebangsatan manusia. Manusia itu hanya merapat ke dermaga jika
mereka sedang mempunyai keinginan saja. Dan ketika keinginan mereka tercapai,
mereka cabut sauhnya lalu pergi ke laut lepas dengan gelombang badai yang hebat
tanpa pernah mengingat Zat yang telah memberi mereka keinginan itu. Jikalau
saja keinginan mereka tidak dikabulkan oleh Zat yang ada di dermaga itu, pasti
mereka akan menyeburkan diri mereka kedalam api yang dalam. Padalah Zat yang
ada di dermaga itu lebih tahu apa yang mereka butuhkan daripada keinginan haram
manusia itu sendiri. Begitulah penjelasan tentang arti bangsat yang ada didalam
manusia.
Aku = terpaku = membisu =
membatu = membeku. Hampir seluruh hari aku habiskan hanya berdiam disebuah
kamar yang kusewa delapan bulan yang lalu itu. Tubuh gempal ini tak tahu harus
bagaimana menikmati hidup. Sebuah hari yang baik pasti diawali dengan sesuatu
yang baik. Dan sebuah hari yang buruk pasti diawali dengan sesuatu yang buruk
juga. Itulah aku. Aku bingung apa yang telah ku perbuat dikala sang surya masih
tertidur pulas di singgasananya yang megah itu. Hariku seakan berhenti sejenak.
Tuhan sepertinya telah memperlambat waktuNya hanya untukku. Ya mungkin untuk
semua manusia yang sederajat denganku. Yang dalam hitungan jam akan menghadapi
ujian yang akan menentukan siapa mereka.
Menurutku arti penting dari
sebuah kata yang bernama ‘ujian’ itu sendiri adalah sesuatu hal yang bertujuan
untuk mengangkat derajat seseorang. Tak akan terangkat derajat seseorag jika ia
tidak mengalami sebuah ujian yang berat yang diberi oleh Sang Maha Pembuat
Soal. Proses menuju pendewasaan diri. Mungkin Dia memang tahu apa yang kita
butuhkan, bukan yang kita inginkan, seperti yang aku katakan tadi. Azan isya
berteriak menandakan datangnya waktu isya. Waktu dimana bagi para muslim untuk
melaksanakan kewajibannya yang telah diberikan Allah. Kebangsatan yang ada di
dalam diriku ini memang telah menjadi jamur yang sulit diberantaskan. Aku tidak
memenuhi panggilan itu segera seraya langsung pergi ke meunasah. Aku pergi
membeli nasi goreng untuk sahur besok. Apa salahnya jika ujian sambil berpuasa?
Sambil menyelam minum air, sembari mencari perhatian Tuhan Yang Maha Penyayang,
desisku didalam hati. Tak lama aku pulang dan mengambil wudhu untuk
melaksanakan kewajiban itu.
Seorang guru berpesan kepadaku
jika setelah isya sebaiknya tidur, dan bangun dikala malam tiba untuk
berbincang sejenak dengan Tuhan. Aku menerima pesan itu dengan hati yang
tersenyum. Ku pikir-pikir ada betulnya juga apa yang dikatakan oleh guru itu.
Setelah “bertemu Tuhan” di waktu isya, kumatikan lampu kamar untuk menutup mataku.
Susah. Hati berniat untuk terlelap, tapi mata berkata untuk terjaga. Sejenak
terpikir untuk menghitung domba. Namun daripada menghitung domba lebih baik aku
beristigfar sampai tertidur pulas. Dan kucoba cara itu. Tapi… mata ini masih
tetap kekeh untuk melihat. Tak ada pilihan lain. Berfikir bagaimana caranya
untuk tidur. Hatiku berkata mp3 Khalid Al-Qahtani. Murotal Quran yang suaranya
dapat membuatku terlelap. Ku putar mp3 itu. Sejuk rasanya. Tak lama aku
tertidur pulas.
…………… saraf mataku tertarik kaget!
Panik aku melihat jam. Kukira sudah jam 03.00 pagi. Sekolah menyuruh kepada
semua murid untuk datang jam 05.30. Ternyata itu hanya sebuah perasaanku. Jam
dinding berkata, masih jam 23.35. “Ya Allah mengapa waktu ini berjalan sangat
lama?” Aku berteriak didalam hati. Tak dapat aku memejamkan mata ini. Mata
seakan-akan telah menjadi pemenang pertempuran dengan hatiku untuk terlelap.
Daripada menimbulkan hal yang buruk, aku lebih baik terjaga dan melihat
perkembangan ujian Negara dari internet. Namun itu tak mampu melelahkan saraf
mataku untuk beristirahat. Justru semakin membuatnya semakin kuat menegangkan
mataku. Sekali lagi kupaksakan untuk tidur, tapi masih seperti itu. Tiba-tiba
aku mencium bau nasi goreng yang masih terbilang segar. Ya, aku memutuskan untuk
sahur. Mungkin dengan makan dapat memanjakan saraf-saraf mataku ini. Jam
berkata pukul 00.22 malam. Lebih baik aku belajar saja daripada termenung
hal-hal yang tak jelas, batinku. Pukul
01.29 malam. Saraf mataku mulai kalah dengan keegoannya untuk terus bekerja.
Sebelum tidur, aku menyempatkan diri untuk berbicang dengan Sang Maha
Penyayang. Setengah jam aku berbincang seraya memohon ampun dan meminta
keinginanku, aku pun memutuskan untuk tidur sambil berpamitan kepada Tuhan, si
Maha Pemurah.
…………… teriakan alarm hp itu
mengusik keheningan pagi itu dimana aku sedang pulas tertidur. Seketika mataku
terbelalak dan berfikir ‘jam berapa sekarang?’. Kulihat jarum jam yang pendek
dan yang panjang masih bergerak disekitar angka 4 dan 9. Itu menandakan kalau
jam telah menunjukkan pukul 04.45 pagi. “damn” aku mengeluh. Tanpa pemanasan
seperti halnya mesin-mesin tua, mataku langsung terbelalak tajam dan mencari
handuk untuk mandi. Setelah berlumurkan air wudhu, aku menghadap kepada Tuhan
untuk melaksanakan kewajiban pertamaku di sebuah hari yang diberkati itu. Aku
berharap agar Sang Maha Pencipta menumpahkan berkatnya kepadaku dan kepada
semua manusia-manusia untuk dilancarkan segala ujiannya.
05.14 lewat tiga detik. Kakiku
melangkah meninggalkan kamar kost-ku. Optimis. Berani. Mental untuk menghadapi
ujian. Kata-kata itu yang seakan menjadi penunjuk jalanku untuk pergi ke
sekolah yang diberkati itu. Di angkot, aku sempat berfikir untuk curang. Tapi,
bagaimana bisa aku curang? orang jumlah paket di ujian sekarang hanya 20 paket.
Ya, hanya 20 paket. Bagi sebagian anak ini terdengar angker dan menakutkan.
Tapi bagiku ini adalah sebuah tinta kehidupan yang harus kutulis di dalam
catatan hidupku, yang sejatinya akan menjadi kenangan terindah yang pernah aku
rasakan. Walau, terkadang aku sempat bergidik ketakutan mendengar paket 20 itu.
Paket itu seakan-akan menjadi pukulan bagiku dan bagi seluruh manusia-manusia
yang sederajat denganku. Aku tak tahu apakah pemerintah sudah jera dengan
ribuan kasus bocornya soal, sehingga perhelatan akbar bagi seluruh siswa SMA
ini menjadi tidak berguna dan hanya memboroskan duit saja? Makanya dibuatlah
soal dengan 20 paket yang berbeda. Aku berasa dipukul telak oleh pemerintah
dengan sebuah tongkat golf yang mendarat keras di lubuk hatiku. Entahlah,
keputusan 20 paket yang berbeda ini semakin membuatku sebal dengan negeri ini.
Dan entah sampai kapan kesebalan itu akan hilang.
Tepat dipukul 05.30 menit, aku
tiba disekolah. Aku disambut oleh seorang guru berjanggut tebal yang seakan-akan
siap memanjakan air wudhu yang selalu menempel di janggutnya itu. “cepat, ke
mesjid”. Pikiranku melayang seraya berkata, ngapain kami disuruh ke mesjid
sambil pagi-pagi begini disaat ujian akan berlangsung? Ketika aku melihat
mesjid itu, makin parahlah perkiraanku itu. Keadaan mesjid gelap. Tak seperti
biasanya. Hanya suara anak-anak bengal saja yang berani berbicara dan berteriak
di rumah Tuhan itu. Suasana ini membuatku semakin curgia. Tiba-tiba timbul
celetukan dari dalam hatiku sembari berkata “mungkin pembagian kunci jawaban”.
“ah tidak mungkin. Soal ada 20 paket, dan aku tidak tahu akan dapat paket
berapa? Bagaimana kalau jawaban itu salah semua?” aku berusaha memberontak
untuk berpikir positif. Entah setan apa
yang telah masuk kedalam pikiranku itu. Kata-kata ‘kunci jawaban’ membuatku
gila sesaat. Aku berusaha untuk melawan godaan setan yang terkutuk itu. Dan aku
berusaha untuk menyebutkan nama-nama Allah sambil berharap setan-setan itu
pergi meninggalkan pikiranku.
Tak lama, masuklah guru berjanggut kedalam mesjid. Dia mengabsen kami
dari pembagian kartu ujian satu persatu.
Dan kami-pun disuruh duduk per-ruangan kelas. Keadaan ruangan itu sangat
berisik. Tak jauh beda dengan pasar Anyar yang berada di dekat stasiun Bogor
itu. Tiba-tiba munculah seorang guru kurus dengan penampilan yang cukup menarik
tetapi sederhana. Namanya pak Aman. Dia tegas. Bahkan aku baru tahu kalau dia
bisa setegas itu untuk membuat mulut semua anak terdiam. “DIAAMM!!”
Teriakkannya sanggup membuat hati para murid blangsat itu terdiam tak berkutik.
Suasana tegang. Menurutku kemarahan pak Aman ini sangat masuk akal. Bagaimana
tidak, para murid itu seakan-akan telah kehilangan akal mereka dengan berbicara
dan tertawa di dalam sebuah rumah. Di rumah orang saja pasti akan ditendang,
apa lagi ini dirumah Tuhan yang menciptakan dan mematikan mereka? Aku tak tahu.
Aku hanya diam. Itu sebabnya disaat aku berkumpul, aku lebih baik diam daripada
bercanda walau aku sangat suka yang namanya candaan konyol.
Suasana tegang. Mungkin hampir mirip suasana holocaust-nya nazi. Seluruh murid disuruh untuk berbaris
sesuai ruangan yang ditempati pada saat ujian berlangsung. Tak ada satu
mulutpun yang ingin melemparkan suaranya kedepan khalayak pada saat itu, walau
hanya sebesar bisikan setanpun mereka tidak berani. Hening, seperti tak ada
satu manusiapun yang berada didalam rumah Tuhan itu. Tak lama kemudian, pak
Aman menjelaskan tentang tata cara ujian yang tidak bosan-bosannya ia sampaikan
kepada murid-murid bebal yang ada disekolah itu. Saat itu juga pak Nowo sang
kepala sekolah mengambil ahli pembicaraan. Hampir seperti partnernya, pak Nowo
juga menjelaskan tentang tatacara ujian yang konon berperan sangat penting bagi
kelulusan itu. Aku tepat berada di depan pak Nowo walaupun dipagari oleh
badan-badan kurus teman-temanku, kecuali badannya si Abdul. Pak Janggut di
sebelah kiri, dan pak Aman di kanan-nya pak Nowo membuat mereka terlihat
seperti bodyguardnya pak Nowo. Persis seperti melihat seorang pemimpin Negara
yang sedang berpidato kepada rakyat jelata yang tak pernah membayangkan masa
depan yang cerah. Setelah berbicara panjang lebar mengenai tatacara ujian,
mereka menyuruh kami untuk masuk keruangan ujian. Sebelum menyuruh kami untuk
ke ruangan ujian, pak Aman menginstruksikan untuk berkumpul ke mesjid kembali
ketika ujian selesai.
Tiba-tiba ada yang berbicara pelan “untuk apa datang pagi kalau gak
dikasih kunci jawaban? Gua udah semangat datang jam segini, eh gak taunya gak
ada. Mendingan gua tidur.” aku tak tahu mulut haram milik siapa yang berani
melemparkan kata-kata haram seperti itu. Jadi selama ini dia hanya mengharapkan
kunci tanpa pernah mau untuk belajar, desisku kesal.
Tak lama kami menunggu, akhirnya dua orang pengawas sampai di ruangan
tempatku mengerjakan ujian. Mereka terlihat tenang. Secara tidak langsung dapat
menenangkanku juga pada saat itu. Soalpun dibagi. “inilah soal 20 paket yang
angker itu” kataku pelan. Kondisi soal dan jawaban memang sudah disatukan, jadi
LJK itu tinggal dirobek saja. Dan tibalah seorang guru untuk memisahkan soal
dan LJK itu dengan cara dirobek.
…….dua jam kemudian……. “kriiiinggg!! kriiiinggg!! kriiiinggg!! bel sekolahpun mengalunkan suaranya yang khas.
“ayo anak-anak silakan taruh LJKnya di atas soal, dan silakan keluar dari
ruangan” kata seorang guru. Tanpa berfikir panjang, aku langsung menaruh LJK
seperti yang telah di instruksikan. Terlihat wajah-wajah cerah nan gembira yang
terpancar dari muka-muka manis teman-temanku. Seakan tak mau ketinggalan waktu
duha, aku langsung pergi menuju mesjid dan segera shalat duha. Aku ingin mengucapkan
syukur kepada Allah. Setelah shalat, aku naik ke atas ke tempat tadi pagi aku
dan teman-temanku dikumpulkan. Dan kembali anak-anak bebal itu berisik.
Kelakuan mereka hampir persis seperti binatang-binatang primata yang lari
kesana-kemari berteriak-teriak tidak jelas. Ada rasanya untuk membentak mereka
untuk diam sebentar. Akal mereka seperti telah dicabut oleh Sang Pencipta,
sehingga mereka berani berlarian dan berteriak dirumah Tuhan itu. Akupun ragu
untuk mengucapkan, ini rumah Tuhan apa kebun binatang Ragunan? Entahlah, aku
hanya diam melihat kelakuan mereka sambil menggelengkan kepala.
Dan, pak Aman datang dengan raut wajah yang berbeda. Kali ini wajahnya
lebih garang dari tadi pagi. Aku tak tahu, mengapa ketika anak-anak bebal itu
melihat mimik wajah pak Aman yang sedang tegang itu mereka diam? Walau ada
seorang anak yang super bebal yang masih menunjukkan sifat kebinatangannya.
‘mereka lebih takut kepada manusia kurus, daripada Allah yang menciptakan dan
mematikan mereka dalam sekali kedipan saja, mungkin bisa lebih cepat dari itu.’
hatiku menyeletuk. Inilah salah satu gambaran kebangsatan manusia yang
kukatakan tadi. Dan masih banyak lagi hal-hal bangsat manusia yang dengan
tenang menyakiti perasaan Tuhan mereka. Termasuk aku.
“hari ini ada tiga anak yang salah mengisi biodata!” pak Aman membentak
dengan penekanan intonasi di kata ‘biodata’. “saya sudah tak tahu lagi harus
ngapain. Sudah berkali-kali saya dan pak Nowo menyampaikan ini. Tapi masih saja
ada yang tidak dengar.” Terlihat wajah kecewa dari raut muka pak Aman. Betapa
tidak, mungkin sudah ada beribu kali pak Aman, pak Nowo, dan pak Janggut
menyampaikan tatacara pengisian biodata. Tapi masih saja ada yang tidak turut.
Itulah anak-anak sekarang. Mereka meremehkan hal-hal kecil yang menurut mereka
tidak akan berefek apapun, tapi sebenarnya hal itu dapat membuat mereka
terjatuh kedalam lubang gelap nan dalam yang tak ada satu berkas cahayapun yang
sanggup menembus kegelapannya. Mungkin itu juga salah satu sifat kebangsatan
manusia. Meremehkan hal-hal kecil. Bahkan kepercayaanku-pun mengingatkan
tentang hal-hal kecil itu. Salah satunya tentang berhadas.
Setelah bosan menyampaikan seluruh kekesalannya kepada murid-murid
pesong itu, akhirnya pak Aman pergi meninggalkan kami. Tak lama pak Janggut datang
dengan wajah yang sama tegangnya. Dia tidak berbicara. Terpaku selama sekian
detik dikeheningan anak-anak bebal, ia menyuruh aku dan teman-temanku untuk
pulang. Tak lupa dia melemparkan kalimat “hati-hati ya dijalan”. Laku pulang
dengan kepala yang tertunduk. Hati ini seakan belum puas dengan selesainya
ujian bahasa Indonesia. Ini masih awal dari bagian perperangan empat hari-ku
dalam menghadapai proses kelulusan. Bersama Gustin, dan Widya, aku pergi
meninggalkan sekolah yang dipenuhi berkah itu. Di jalan menuju jalan raya, kami
hanya diam tanpa ada satu katapun yang terlempar dari mulut kami.
Sesampainya dikost, aku putuskan untuk tidur sejenak. Ujian cukup
membuatku lemas saat aku sedang puasa. Setelah bangun, tiba-tiba telepon
genggamku bergetar. Akbar, dia menyuruhku untuk datang kerumah salah satu guru
untuk belajar fisika. Awalnya aku sempat menolak karena aku lebih baik sendiri.
Namun karena ada si ganteng Zaid aku pun pergi kesana. Dengan kualtas otaknya
Zaid yang cukup memadai dalam memahami materi aku percaya dengan dia. Daripada
teman-teman terkutuk-ku Aaron dan Akbar. Kedua saudara kembar tak sejenis ini
adalah pengacau, separator, provokator kelasku. Sering kali dimana mereka
membuat masalah, tapi mereka sendiri tidak bisa menumpas masalah itu. Dan
masalah itu baru tuntas jika ada aku yang dengan terpaksanya menyelesaikan
masalah konyol mereka. Aku tak tahu mengapa Tuhan menjodohkan aku dengan
mereka. Sekiranya setiap keputusan Tuhan bisa kita rubah, pasti aku akan lebih
baik menjadi orang kaya saja daripada harus bertemu dengan kedua manusia
pesakitan itu J.
Namun merekalah yang menjadi penerang dalam gelapku, disaat seorang wanita
memutuskan untuk tenggelam dalam diriku.
Aku pergi dengan mengendarai sepeda kerumah guru itu. Di jalan, aku bertemu
dengan Aaron. Dia melihat aku, dan akupun melihat dia. Namun tak ada satu
katapun yang terucapkan walau hanya “woy, mau kemana lo?”-pun tidak. Mataku ini
seakan sudah tak sanggup melihat hidung Aaron yang kempes itu. Kenapa? Karena
tiap hari kami selalu bertemu. Ya, tiap hari kami bertemu. Hampir tak ada
manusia lain di dunia ini yang aku lihat selain hidungnya yang kempes itu.
Sepertinya dunia ini diciptakan Tuhan hanya untuk aku dan Aaron saja. Tidak
seperti dulunya Adam dan Hawa, manusia ini adalah benar-benar manusia terkutuk
yang dilemparkan Tuhan kebuminya yang penuh berkah ini. Dan aku akan menjadi
manusia yang paling sial jika Tuhan sekiranya melemparkan Akbar si toak mesjid
ke bumi ini. Semoga kalian paham.
Setelah sampai di rumah guru itu, kamipun belajar sebagaimana
semestinya. Setelah tiga jam dirumah guru itu, belajar, nonton film, dan
bacok-bacokan. Kamipun memutuskan untuk pulang, dan belajar lagi dirumah. Setelah
Isya aku memutuskan untuk tidur dan bangun tengah malam untuk belajar, dan
berbincang dengan tuhan. Seperti hari kemarin, aktifitas baru ini aku jalani.
Namun kali ini jam masuk ke sekolah diperlambat menjadi pukul 6.00 pas. Setelah
menyampaikan berbagai instruksi termasuk salah satunya adalah instruksi untuk
tidak lupa mengisi biodata, kamipun disuruh untuk pergi keruangan ujian.
Pelajaran yang diuji hari ini adalah fisika dan bahasa Inggris.
Pengawas itu membagikan soal fisika. Dan… ‘ya Allah ini soal benar-benar
berbeda’ keluhku. Aku tak tahu mengapa soal fisika ini berbeda dengan
tahun-tahun sebelumnya. Materi sebenarnya sama, namun ini lebih rumit lagi
daripada tahun kemarin. Awalnya kukira Cuma aku saja yang mengalami ini.
Setelah ujian selesai, terlihatlah raut wajah teman-temanku yang lemas. Bahkan
Perdana-pun terpaku di tempat duduknya menatap lantai dengan tatapan kosong
yang bisa menjadi santapan buat setan-setan yang bekeliaran di sekolah itu. Aku
= pasrah. Aku sudah berusaha semampuku. Seluruh soal yang dibagikan oleh guru
fisika kemarin sudah aku isi, walau hanya beberapa bab yang aku benar-benar
tidak tahu. Entahlah manusia hanya bisa berikhtiar.
Bebalnya anak-anak yang ada di SMA itu sudah memasuki stadium yang
paling tinggi. Pada saat ujian fisika selesai, kami semua disuruh berkumpul di
mesjid. Dan, datanglah pak Aman dengan raut muka yang lagi-lagi bisa dibilang
tidak biasa. Sebuah permasalahan klasik yang saya pikir ini adalah permasalahan
sepele yang tidak perlu terjadi lagi. Betapa tidak, anak-anak pesong itu
lagi-lagi salah mengisi biodata mereka. Sehingga membuat pak Aman memerah
seperti orang kebakaran. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada pak Aman
mengurus anak-anak gila yang ada di sekolah itu.
Setelah istirahat, kamipun melanjutkan ujian bahasa Inggris. Kalau ini
aku tidak terlalu pusing, karena memang Allah telah memberikan kemudahan bagiku
untuk memahami bahasa penjajah ini. Sempat terpikir mengapa bahasa Inggris dapat
menjadi bahasa dunia? Dan jawabannya karena mereka adalah bangsa yang piawai
dalam mengarungi samudra luas, dan menduduki sebagian besar wilayah di dunia
ini. Itulah mengapa orang-orang menganggap kalau bahasa Inggris itu keren.
Bagiku biasa saja. Bahkan aku lebih baik berbahasa Indonesia ketika berbicara
kepada guru bahasa Inggrisku, dan orang-orang lain. Namun jika mereka
memancing, maka aku layani mereka dengan semampuku.
Setelah pulang, aku tidur. Namun hati ini masih tidak percaya apa yang
tadi aku hadapi. Sebuah ulangan fisika yang menurutku sangat tidak normal.
Namun aku hanya berserah kepada Allah yang dapat membulak-balikkan keadaan
dengan mudahnya. Tak tahu lagi harus melakukan apa. Seketika muncul niat untuk
belajar matematika. Namun niat baik itu terhalangai oleh pandangan soal fisika
yang susah tadi. “fisika saja susah, apa lagi matematika?” aku berkata didalam
hati. Namun rasa ingin tahuku berhasil mengalahkan keinginan setan itu. Dengan
terpaksanya aku membuka software tentang materi ulangan matematika. Dan aku tak
dapat bertahan lama. Mata ini seakan berat untuk menatap angka-angka keriting
yang membuat mata menjadi merah itu. Dan seperti hari-hari sebelumnya,
aktivitasku berubah. Bangun malam, belajar hingga subuh. Ini adalah aktivitas
yang tidak biasa aku lakukan. Walaupun pernah tapi hanya saat mood-ku sedang
bagus saja. Itulah kebangsatan yang ada di dalam diriku. Aku hanya berusaha
ketika ujian sudah di depan mata saja.
Sebuah pagi yang indah untuk hari yang indah. Namun keindahan hari itu
tidak seindah perasaanku. Pikiran ini terlalu berat membayangkan soal
matematika yang dapat membuat seluruh otak anak-anak yang ada di sekolahku
mendidih itu. Dan lagi, pak Aman menyuruh kami untuk berkumpul di Mesjid. Aku
heran. Mengapa anak-anak pesong itu masih mengharapkan adanya kunci jawaban
dari sekolah. Padahal ujian telah jelas-jelas mereka lalui tanpa ada huruf A B
C D E yang terlempar untuk mereka dari sekolah. Entah apa yang ada di pikiran
mereka. Dan entah se-bebal apa sifat mereka itu. Entahlah. Aku sampai saat ini
masih bersyukur kepada Sang Maha Melihat karena tidak memasukkan aku kedalam
golongan anak-anak itu. Aku tak tahu sudah berapa ribu kali pak Janggut dan pak
Aman memberitahu tentang tatacara pengisian Lembar Jawaban Komputer Ujian
Nasional (LJKUN). Sekiranya ada alat untuk menghitung pembicaraan orang, aku
yakin pasti pak Janggut dan pak Aman masuk rekor muri Indonesia karena sudah
ribuan kali mereka menyampaikan hal sepele kepada anak-anak yang tidak sepele.
Singkat cerita, aku sudah berada di dalam ruangan ujian. Kubuka lembar
itu, dan terlihatlah keindahan angka-angka cantik yang siap mendidihkan sel-sel
otakku dalam 120 menit kedepan. …….120 menit kemudian……. Mataku sayu, otakku
mendidih, wajahku berkerut seketika, perasaanku hancur, dan kakiku seakan tak
sanggup membawa beban badan dan beban dosaku. Waktu seakan berhenti sejenak.
Terpikir olehku, hanya sekitar 16 dari 40 nomor saja yang dapat aku kerjakan
dengan yakin. Dan itupun aku belum yakin apakah akan benar semua. Dan sisanya
aku hanya menghitung dengan logikaku. Hhhhhh nafas keluhan keluar dari mulutku.
Lemas, tak berdaya. Beginikah cara Negara menyiksa rakyatnya dengan ujian yang
sangat tidak jelas ini? Geram aku memikirkannya.
Dan aktivitas baruku itu hanya bertahan selama empat hari. Dan hari ini
adalah hari kamis. Hari terakhir bagi semua anak-anak yang sederajat denganku.
Biologi dan kimia. Ada rasa puas di dalam diriku. Aku yang dulu paling bebal
dengan pelajaran kimia, sekarang Alhamdulillah berkat kerja kerasku dan bantuan
dari Allah aku mengerti bab-bab yang diujiankan. Sebuah hari indah yang
mengeluarkan aku dari beban-beban yang dibuat oleh pemerintah. Aku tidak
menyalahkan pemerintah, namun aku menyalakan sistem yang dibuat oleh mereka.
Sudahlah percuma saja kita membahaskan masalah itu. Hampir tak ada beban aku
mengerjakan soal kimia dan biologi itu. Walau masih ada setitik ragu yang
menempel di dalam hatiku. Sebuah titik haram yang dapat menghancurkan masa
depan, menurutku. Setelah selesai ujian, aku mengucapkan Alhamdulillah dan
melihat keatas seraya tersenyum kepada Allah.
Langganan:
Postingan (Atom)