Senin, 14 Agustus 2017

Ketika Bintang Terbang di atasNya

senja
kala itu
entah dimana
di tanah jawa
di tanah yang kutaktahu bagaimana bisa
seperti kembali ke masa lalu
masa keemasan
takkunjung dapat
kumampu
berpisah dengannya

senja itu
seperti kembali lagi
dalam kelabu
dengan hati
dengan hati yang tak mengerti
menulis dalam gelap
pikiranku seperti tak terbatas
tentang semua hal

bawa aku
bawa aku kembali
ke tanah itu
ya
ya aku jatuh cinta

saat mata tak bisa terpejam
heningmu membuatku tenang
bebas
melayang
pergi
jauh
semakin jauh
bermata tiga
menandakan kedekatan dengan Tuhan

tumbuhan itu
tumbuhan itu
beriakan aku satu
tolong
aku rindu akan kehangatannya
pergi
jauh
jauh sekali
hingga aku terhenti
di sebuah tanah

tanah
berikan aku tanah itu
berikan
tolong berikan

Tuhan
maafkan aku
Tuhan
aku mencinyaiMu
Tuhan
lihat aku
Tuhan
maafkan aku

dalam gelap
aku tak mampu
melayang jauh
kemanapun itu
bawa aku
ke sisiMu

tanah itu
tanah yang tak dijanjikan
aku mendapatinya
aku berterimakasih
padaMu
Tuhan

tolong aku
tolong
Tuhan
dengar aku
apakah Kau disana?
Tuhan

Jumat, 12 Mei 2017

Ungkapan Terlarang

sengaja kubuatkan tulisan ini di tengah pengaruh THC yang sedikit membuatku teler.

Demi Allah yang nyawaku berada dalam genggamannya aku bingung.
Demi semesta yang dengan konsistensinya berputar dalam suatu kerangka kehidupan, aku heran.
Demi Muhammad yang ditangannya, peradaban bersinar, aku merindukannya.

Katakanlah.
Ketika masa berganti, aku terkapar sekarat dan mati.
Maka ketika itu, aku lebih baik diam.
Diam melihat dan menyadari bahwa aku, adalah aku yang hina.

Ah, kalian boleh saja memandangku lemah.
Ah, kalian boleh saja melihatku seperti orang tolol.
Ah, atau mungkin kalian mengharapku jatuh tersungkur karena kebodohanku.
Maka, ketika itu terjadi, aku lebih memilih untuk diam.

Merindukan matahari adalah mimpiku.
Katakanlah wahai angin utara.
Dimanakah kau simpan sebuah kebebasan?
Atau, haruskah aku pergi ke Utara untuk mencarinya?
Yang kutahu, Utara adalah aku di masa depan.

Wahai Selatan.
Tempat dimana peradaban berkembang.
Tidakkah kau iri dengan Utara yang begitu mempesona?
Atau kau terlalu asik dengan keindahanmu sehingga kau lupa rasanya memperhatikan?
Izinkan aku ke Utara untuk mencari keindahan itu, dan kuberitahukan kepadamu ketika aku pulang kelak.

Aku kadang heran dengan manusia.
Ya, aku bagian dari mereka.
Manusia.
Karena kebodohan merekalah -tentu saya tidak mau masuk kedalamnya-, suatu hal yang berguna menjadi dilarang.
Hai manusia!
Tidakkah kau sadar?
Ataukah kau hanya menjadi babu dalam kecanduan yang menjerumuskan?
Yang hanya membuatmu menjadi lebih bodoh dari primata giting.

Kuberitahu suatu hal.
Izinkan aku mengisap Cannabis Sativa, jika kau ingin aku membuat sebuah karya yang fantastis.
Sungguh, karena kebodohan manusialah sekarang khasiatnya pudar, bahkan sengaja dipudarkan.
Bodoh!

Atau, izinkan aku meminum kafein jika kau ingin melihatku memindahkan Everest dari titik kordinatnya ke Selatan yang indah.
Sungguh, kafein adalah teman terbaikku setelah aku tak lagi berhasrat untuk hidup.

Apa?
Kau heran?
Oh ya, tidakkah kau berfikir bahwa aku berubah?
Ya, itu karena aku menyerahkan diriku pada Tuhan Semesta Alam yang atas izinNya lah aku seperti ini.

Sungguh, kuberikan sebuah pesan untukmu.
Sengaja kurumitkan tulisan ini, dan kuperluas maknanya agar kau mengambil sebuah pelajaran.
Beribadalah, dan sembahlah Tuhanmu Yang Satu.
Bergantunglah hanya kepada Dia.
Karena tak ada Tuhan Selain Dia Yang Maha Esa.

Sabtu, 04 Februari 2017

KETERPAKSAAN

HI, bagaimana dengan hidup?
Masihkah kau tertutup?
Atau telah terbuka dengan malu sayup?

Demi Allah yang nyawaku berada di dalam genggemanNya,
Aku hampir terkapar mati.
Dengarlah...

***

Katakan suatu hal yang indah

Apakah kau mau?

Ya. saya membutuhkannya.

Baiklah, jika kau menginginkannya.

Silakan.

Berdoalah kepada Tuhan-mu yang satu dan tidak beranak, dan tidak diperanakkan.

Aku berusaha

Segala puji bagiNya, Tuhan Semesta Alam. Semoga keselamatan memberkahi perjalanan hidupmu.

Terimakasih. Semoga doa itu berbalik kepadamu.

Terimakasih.

Tapi, bolehkah kutanyakan sesuatu?

Boleh, selagi pertanyaan itu masih dalam kemampuanku dalam menjawabnya.

Ya, aku sering berdoa kepada Tuhan Semesta Alam. Tapi ada sesuatu yang membuatku meragukannya.

Apakah itu wahai saudaraku?

Kadang, aku berdoa dalam keterpaksaan. Aku hanya berdoa ketika keinginanku dan kebutuhanku saja. Aku tidak merasa nyaman jika berdoa disaat hatiku tidak ingin melakukannya.

Lalu? Apakah kau meninggalkan doa itu? Apakah kau sengaja meninggalkan kewajiban yang Tuhan telah berikan kepadamu?

Ya.

Demi Allah Tuhan yang seluruh hal yang ada di bumi ini berzikir kepadaNya, sungguh kau termasuk orang yang merugi.

Kenapa? Aku merasa tidak nyaman ketika berdoa dalam keterpaksaan.

Saudaraku. Dengarkan ini.
Apa yang kau suka, belum tentu baik untukmu.
Dan apa yang kau tidak suka, kadang malah baik untukmu.
Jikalau kau telah memutuskan untuk berserah, maka tetaplah di jalan itu.
Keterpaksaan dalam berdoa itu wajar.
Keterpaksaan dalam menjaga dan menjalani kewajiban itu wajar.
Memang, kadang kita harus memaksa diri kita untuk dekat dengan Allah.
Bagaimanapun, anggaplah keterpaksaan itu sebagai ujian dari Allah untuk kita.
Dia hanya melihat kesungguhanmu saja kok.

hhhhmm terimakasih saudaraku.

Dan satu lagi, berdoalah kepada Tuhanmu Yang Maha Mendengar.
"Ya Allah Yang Maha Pengampun.
Jika keterpaksaan dalam berdoa dan menjalani kewajiban ini baik untukku, maka tolong terimalah doaku kepadaMu.
Dan hilangkan rasa keterpaksaan ini di dadaku, agar aku bisa selalu mengingatMu disaat siang yang ramai, dan hening malam yang dimana hanya ada Engkau, aku, dan tangisanku yang terus menetes karena mengingat kebesaran dan kasih sayangMu.
Jadikanlah aku orang-orang yang berada di jalanMu yang benar."