sengaja kubuatkan tulisan ini di tengah pengaruh THC yang sedikit membuatku teler.
Demi Allah yang nyawaku berada dalam genggamannya aku bingung.
Demi semesta yang dengan konsistensinya berputar dalam suatu kerangka kehidupan, aku heran.
Demi Muhammad yang ditangannya, peradaban bersinar, aku merindukannya.
Katakanlah.
Ketika masa berganti, aku terkapar sekarat dan mati.
Maka ketika itu, aku lebih baik diam.
Diam melihat dan menyadari bahwa aku, adalah aku yang hina.
Ah, kalian boleh saja memandangku lemah.
Ah, kalian boleh saja melihatku seperti orang tolol.
Ah, atau mungkin kalian mengharapku jatuh tersungkur karena kebodohanku.
Maka, ketika itu terjadi, aku lebih memilih untuk diam.
Merindukan matahari adalah mimpiku.
Katakanlah wahai angin utara.
Dimanakah kau simpan sebuah kebebasan?
Atau, haruskah aku pergi ke Utara untuk mencarinya?
Yang kutahu, Utara adalah aku di masa depan.
Wahai Selatan.
Tempat dimana peradaban berkembang.
Tidakkah kau iri dengan Utara yang begitu mempesona?
Atau kau terlalu asik dengan keindahanmu sehingga kau lupa rasanya memperhatikan?
Izinkan aku ke Utara untuk mencari keindahan itu, dan kuberitahukan kepadamu ketika aku pulang kelak.
Aku kadang heran dengan manusia.
Ya, aku bagian dari mereka.
Manusia.
Karena kebodohan merekalah -tentu saya tidak mau masuk kedalamnya-, suatu hal yang berguna menjadi dilarang.
Hai manusia!
Tidakkah kau sadar?
Ataukah kau hanya menjadi babu dalam kecanduan yang menjerumuskan?
Yang hanya membuatmu menjadi lebih bodoh dari primata giting.
Kuberitahu suatu hal.
Izinkan aku mengisap Cannabis Sativa, jika kau ingin aku membuat sebuah karya yang fantastis.
Sungguh, karena kebodohan manusialah sekarang khasiatnya pudar, bahkan sengaja dipudarkan.
Bodoh!
Atau, izinkan aku meminum kafein jika kau ingin melihatku memindahkan Everest dari titik kordinatnya ke Selatan yang indah.
Sungguh, kafein adalah teman terbaikku setelah aku tak lagi berhasrat untuk hidup.
Apa?
Kau heran?
Oh ya, tidakkah kau berfikir bahwa aku berubah?
Ya, itu karena aku menyerahkan diriku pada Tuhan Semesta Alam yang atas izinNya lah aku seperti ini.
Sungguh, kuberikan sebuah pesan untukmu.
Sengaja kurumitkan tulisan ini, dan kuperluas maknanya agar kau mengambil sebuah pelajaran.
Beribadalah, dan sembahlah Tuhanmu Yang Satu.
Bergantunglah hanya kepada Dia.
Karena tak ada Tuhan Selain Dia Yang Maha Esa.