Teuku Muhammad lahir
di Lami, sebuah desa di Meulaboh, Aceh Barat pada tanggal 21 April 1922. Beliau
anak dari pasangan Teuku Zainun dan Cut Sami. Teuku Zainun adalah anak dari
Teuku Ibrahim yang tak lain adalah adi dari pahlawan nasional Indonesia, Teuku
Umar. Yah Chik sapaan Teuku Muhammad dibesarkan dalam keluarga Islam yang
sangat menjunjung tinggi nilai-nilai syariat.
Sejak kecil, beliau
dan saudara-saudarinya telah diajari untuk berjihad dan berperang melawan
kaphe-kaphe Belanda. Kaphe adalah sebutan kafir dalam bahasa Aceh. Sebagai seorang
ibu Uci sapaan akrab Cut Sami, mempunyai sifat yang lemah lembut bagi
anak-anaknya, dan ia akan berubah menjadi marah jika mengetahui anaknya ada
yang berbuat sesuatu yang diluar syariat Islam. Uci sering menyanyikan lagu
Dodaidi. Ini adalah lagu nina bobo-nya orang Aceh untuk menidurkan anak-anak
mereka saat malam hari. Di dalam lagu ini terdapat pesan moral yang mendidik
anak-anak untuk melakukan jihad di jalan Allah. Dan sang ibu lebih rela anak
mereka mati dimedan pertempuran daripada menjadi saudagar yang kaya raya.
Teuku Muhammad hanya
menempuh pendidikan di meunasah-meunasah
di Desa Lami. Pada saat berumur 18 tahun, Yah Chik pindah ke Kutaraja
yang sekarang bernama Banda Aceh. Disana ia mengikuti pelatihan militer untuk
melawan pasukan Belanda. Setelah 4 tahun bertempur dan bergreliya di hutan
Kutaraja ia terpilih menjadi Kapten yang menjadikan dia sebagai Kapten termudah
di Aceh pada saat itu. Ketika itu Ia berumur 22 tahun. Tidak sampai disitu,
pada saat bom Hirosima dan Nagasaki jatuh, ia pindah ke Batavia untuk membantu
mengamankan proses pembuatan teks Proklamasi. Pada saat Indonesia telah memprokamirkan
kemerdekaannya, beliau juga turut menyumbang pesawat RI-001.
Pada saat itu seluruh
orang Aceh diwajibkan oleh setiap Keuchik atau kepala desa untuk menyumbang
pesawat demi Indonesia merdeka. Bagi mereka (orang Aceh) harta tidak menjadi
masalah demi mengembalikan harga diri yang telah tercabik oleh penjajah Jepang.
Memang, Aceh adalah daerah terakhir di Indonesia yang berhasil dijajah Belanda.
Yakni pada tahun 1904. Dan pada tahun 1942 sebagian daerah Aceh berhasil
dikuasai oleh Jepang.
Teuku Muhammad
melepas masa lajangnya dengan menikahi Siti Aminah wanita yang ia temui di
Medan pada tahun 1942. Mereka dianugrahi 7 orang anak. Yaitu Khaidir,
Khairunisa, Khairul Fajar, Khairiah Qamar, Khairunuriah, Khairuddin, dan
Khairul. Khairuddin adalah anak dari penulis. Khairuddin lahir
di Bandung, 27 Agustus 1957, pada saat Yah Chik sedang bertugas di Bandung. Ketika
itu ia juga mengikuti jalannya KTT Asia Afrika tahun 1955. Dimata Khairuddin,
Yah Chik adalah sosok ayah yang keras dan sangat mengawasi anak-anak mereka
agar tidak ada yang berbuat diluar syariat Islam. Tetapi selain keras, beliau
juga memiliki sifat lembut terutama bagi cucu-cucunya yang sangat ingin tahu
tentang sejarah Aceh.
Ada yang menarik
disini. Walaupun Yah Chik bergelar Teuku, namun gelar itu tidak diturunkannya
kepada anak-anaknya. Teuku adalah gelar bangsawan untuk orang Aceh. Alasan Yah
Chik memilih untuk tidak memberikan gelar itu adalah karena faktor sejarah. Dahulu
banyak orang-orang yang bergelar Teuku sering merampas hak-hak orang miskin di
Aceh. Walaupun ia dan keluarganya tidak melakukan itu, tapi ia merasa malu
sehingga memutuskan untuk tidak memberikan gelar itu kepada anak-anak beliau. Teuku
Muhammad pensiun sebagai anggota TNI pada tahun 1975. Ketika itu ia berpangkat
Kolonel. Dan Yah Chih akhirnya mengembuskan nafas terkahirnya pada umur 58
tahun karena sakit paru-paru dan diabetes. Ia meninggal pada tahun 22 Agustus
1980. Beliau disusul oleh istrinya Siti Aminah 5 tahun kemudian. Beliau dan
istrinya dikuburkan bersebelahan di pemakaman umum di Neusu, Banda Aceh. Namun pada
tahun 1989 makam beliau dipindahkan di makam pahlawan yang jaraknya tidak
terlalu jauh dari makannya dahulu di Neusu, Banda Aceh.
Beliau adalah sosok
yang sederhana ditengah kemewahan Teuku. Dan banyak pesan moral yang dapat
diambil dari kisah beliau. Salah satunya adalah pertahankan agama, tanah air,
dan harga dirimu. Apapun yang terjadi lakukanlah, karena itu adalah milikmu dan
tak ada satupun orang di dunia ini yang dapat mengganggunya. Begitulah pesan
beliau kepada anak dan cucu-cucunya pada saat sebelum ia mengembuskan nafas
terakhirnya. Cinta kepada Allah niscaya akan memberikan cinta kepada semuanya
termasuk tanah air-mu.














