Senin, 01 Oktober 2012

Kakekku Seorang Pahlawan Kemerdekaan



Teuku Muhammad lahir di Lami, sebuah desa di Meulaboh, Aceh Barat pada tanggal 21 April 1922. Beliau anak dari pasangan Teuku Zainun dan Cut Sami. Teuku Zainun adalah anak dari Teuku Ibrahim yang tak lain adalah adi dari pahlawan nasional Indonesia, Teuku Umar. Yah Chik sapaan Teuku Muhammad dibesarkan dalam keluarga Islam yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai syariat.
Sejak kecil, beliau dan saudara-saudarinya telah diajari untuk berjihad dan berperang melawan kaphe-kaphe Belanda. Kaphe adalah sebutan kafir dalam bahasa Aceh. Sebagai seorang ibu Uci sapaan akrab Cut Sami, mempunyai sifat yang lemah lembut bagi anak-anaknya, dan ia akan berubah menjadi marah jika mengetahui anaknya ada yang berbuat sesuatu yang diluar syariat Islam. Uci sering menyanyikan lagu Dodaidi. Ini adalah lagu nina bobo-nya orang Aceh untuk menidurkan anak-anak mereka saat malam hari. Di dalam lagu ini terdapat pesan moral yang mendidik anak-anak untuk melakukan jihad di jalan Allah. Dan sang ibu lebih rela anak mereka mati dimedan pertempuran daripada menjadi saudagar yang kaya raya.
Teuku Muhammad hanya menempuh pendidikan di meunasah-meunasah  di Desa Lami. Pada saat berumur 18 tahun, Yah Chik pindah ke Kutaraja yang sekarang bernama Banda Aceh. Disana ia mengikuti pelatihan militer untuk melawan pasukan Belanda. Setelah 4 tahun bertempur dan bergreliya di hutan Kutaraja ia terpilih menjadi Kapten yang menjadikan dia sebagai Kapten termudah di Aceh pada saat itu. Ketika itu Ia berumur 22 tahun. Tidak sampai disitu, pada saat bom Hirosima dan Nagasaki jatuh, ia pindah ke Batavia untuk membantu mengamankan proses pembuatan teks Proklamasi. Pada saat Indonesia telah memprokamirkan kemerdekaannya, beliau juga turut menyumbang pesawat RI-001.
Pada saat itu seluruh orang Aceh diwajibkan oleh setiap Keuchik atau kepala desa untuk menyumbang pesawat demi Indonesia merdeka. Bagi mereka (orang Aceh) harta tidak menjadi masalah demi mengembalikan harga diri yang telah tercabik oleh penjajah Jepang. Memang, Aceh adalah daerah terakhir di Indonesia yang berhasil dijajah Belanda. Yakni pada tahun 1904. Dan pada tahun 1942 sebagian daerah Aceh berhasil dikuasai oleh Jepang.
Teuku Muhammad melepas masa lajangnya dengan menikahi Siti Aminah wanita yang ia temui di Medan pada tahun 1942. Mereka dianugrahi 7 orang anak. Yaitu Khaidir, Khairunisa, Khairul Fajar, Khairiah Qamar, Khairunuriah, Khairuddin, dan Khairul. Khairuddin adalah anak dari penulis. Khairuddin lahir di Bandung, 27 Agustus 1957, pada saat Yah Chik sedang bertugas di Bandung. Ketika itu ia juga mengikuti jalannya KTT Asia Afrika tahun 1955. Dimata Khairuddin, Yah Chik adalah sosok ayah yang keras dan sangat mengawasi anak-anak mereka agar tidak ada yang berbuat diluar syariat Islam. Tetapi selain keras, beliau juga memiliki sifat lembut terutama bagi cucu-cucunya yang sangat ingin tahu tentang sejarah Aceh.
Ada yang menarik disini. Walaupun Yah Chik bergelar Teuku, namun gelar itu tidak diturunkannya kepada anak-anaknya. Teuku adalah gelar bangsawan untuk orang Aceh. Alasan Yah Chik memilih untuk tidak memberikan gelar itu adalah karena faktor sejarah. Dahulu banyak orang-orang yang bergelar Teuku sering merampas hak-hak orang miskin di Aceh. Walaupun ia dan keluarganya tidak melakukan itu, tapi ia merasa malu sehingga memutuskan untuk tidak memberikan gelar itu kepada anak-anak beliau. Teuku Muhammad pensiun sebagai anggota TNI pada tahun 1975. Ketika itu ia berpangkat Kolonel. Dan Yah Chih akhirnya mengembuskan nafas terkahirnya pada umur 58 tahun karena sakit paru-paru dan diabetes. Ia meninggal pada tahun 22 Agustus 1980. Beliau disusul oleh istrinya Siti Aminah 5 tahun kemudian. Beliau dan istrinya dikuburkan bersebelahan di pemakaman umum di Neusu, Banda Aceh. Namun pada tahun 1989 makam beliau dipindahkan di makam pahlawan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari makannya dahulu di Neusu, Banda Aceh.
Beliau adalah sosok yang sederhana ditengah kemewahan Teuku. Dan banyak pesan moral yang dapat diambil dari kisah beliau. Salah satunya adalah pertahankan agama, tanah air, dan harga dirimu. Apapun yang terjadi lakukanlah, karena itu adalah milikmu dan tak ada satupun orang di dunia ini yang dapat mengganggunya. Begitulah pesan beliau kepada anak dan cucu-cucunya pada saat sebelum ia mengembuskan nafas terakhirnya. Cinta kepada Allah niscaya akan memberikan cinta kepada semuanya termasuk tanah air-mu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar