Apakabar matahari pagi?
Apakah kau masih sanggup menyinari?
Rinduku selalu terpatri.
Dalam hati.
Kini tibalah akhir dari persinggahanku.
Persinggahan dalam hati seorang wanita.
Dalam dilema aku hampir mati dan terjatuh.
Dilema masa kini yang tak ada habisnya.
Terimakasih.
Terimakasih karena telah berbagi.
Walau kau tak lagi terpatri sebagai sebuah kekasih.
Tapi kau telah membantuku untuk berdiri.
Aku.
Terjebak dalam permainan semu.
Sebuah keadaan yang tak pasti tapi bisa membuatku bisu.
Bisu akan kesadaran hidupku.
Kamu.
Ya, kamu.
Kamu telah membuatku jatuh.
Jatuh kedalam cinta sesaat dan semu.
Aku telah berusaha untuk maju.
Itulah usaha terbaiku.
Untukmu.
Tapi, aku tahu, kau tak memilihku.
Tak mudah bagiku untuk masuk.
Masuk kedalam cinta seorang wanita.
Dan, kau berhasil membuatku masuk.
Kedalam permainan pendek cinta.
Ya. Tak perlulah untuk terus berusaha.
Karena ku tahu, bukan aku satu-satunya yang mencoba.
Teman dekatkupun ikut membuka.
Membuka hatinya untukmu wahai wanita.
Kini tibalah saatnya bagiku untuk pergi.
Tidak untuk meninggalkanmu sendiri.
Tapi, menjadi teman, kakak, yang bisa berarti.
Berarti untuk kemudian hari.
Aku akan berusaha untuk menjadi diri sendiri.
Tanpa ada usaha untuk meniru orang lain.
Karena ku tahu, cinta itu mandiri.
Bukan perkara dan tiruan orang lain.
Kau akan dan tetap selalu terpatri dalam hati.
Ya, setidaknya menjadi orang lain yang tercatat dalam alunan hidup yang tak mesti.
Berbahagialah untukmu dikemudian hari.
Karena akupun juga berbahagia, dan itu pasti.
Semua salahku.
Yang menganggapmu sebagai sebuah prestise hidup yang rancu.
Aku berpaling dari kenyataan yang harusnya aku berada di situ.
Tidak untuk mengejarmu.
Ku harap, kita tak sampai disini.
Kau dan aku sekarang sudah satu.
Menjadi hal lain, bukan kekasih.
Dan inilah ungkapan hatiku.
Jakarta, 20 Mei 2016.
Made from the end of PM.
AAL
Jumat, 20 Mei 2016
Minggu, 03 April 2016
Malam
Kadang aku lebih memilih malam sebagai tempat peraduan.
Heningnya membuatku tak dapat berpaling dari kerasnya kehidupan.
Ketika siang bagaikan api yang membara.
Dalam malam aku dapat tenang dan terjaga.
Malamku penuh tanya.
Entah mengapa kau seperti tak berdaya.
Dan entah mengapa aku seperti tak terduga.
Aku hebat ketika matahari berpaling muka.
Ketika kulihat surga firdaus dalam tatapan matamu.
Disaat itulah aku merasakan kenyamanan dan ketenangan indah dalam hidupku.
Seperti matahari pagi yang siap menyinari hari.
Engkau ada karena doa dan teriakan hatiku yang sepi.
Engkaulah jawaban surga, Sang Maha Pengatur kehidupan.
Engkaulah malam yang memberikanku ketenangan dan harapan.
Bagaikan senyuman rembulan ketika matahari di balik bumi.
Seperti itulah perasaanku, tersenyum indah, senang, tenang, dan siap menatap esok hari.
Anganku tak terbataskan oleh waktu, atau mungkin materi.
Kadang dia (anganku) datang dengan sendiri.
Pergi tanpa permisi.
Tetapi.
Engkaulah yang selalu menyalakan api anganku dalam menyertakan doa untukku, untuk kita, di kemudian hari.
Mungkin aku bukan manusia yang sempurna.
Aku berusaha untuk menjadi sempurna, walau aku harus memindahkan Menara Eifel dari titik kordinatnya.
Wahai pujangga hati.
Kumohon jangan pergi.
Aku tak dapat menjadi berarti.
Jika engkau pergi dan meninggalkanku sendiri.
Kadang, Tuhan punya jalanNya.
Dan, ku percaya kaulah jalanku untuk menuju masa depan.
Yang dimana hanya ada kebahagiaan, cerita, derita, masa sulit, yang terpenting kita dan buah yang kita hasilkan dari cinta murni kita.
Selamat tidur wahai wanita penyejuk jiwa.
Malam memang telah menjadi siang.
Kuharap engkau dapat menikmatinya dengan naungan Tuhan dan berkahnya yang banyak.
Untuk wanita penyejuk jiwa.
Heningnya membuatku tak dapat berpaling dari kerasnya kehidupan.
Ketika siang bagaikan api yang membara.
Dalam malam aku dapat tenang dan terjaga.
Malamku penuh tanya.
Entah mengapa kau seperti tak berdaya.
Dan entah mengapa aku seperti tak terduga.
Aku hebat ketika matahari berpaling muka.
Ketika kulihat surga firdaus dalam tatapan matamu.
Disaat itulah aku merasakan kenyamanan dan ketenangan indah dalam hidupku.
Seperti matahari pagi yang siap menyinari hari.
Engkau ada karena doa dan teriakan hatiku yang sepi.
Engkaulah jawaban surga, Sang Maha Pengatur kehidupan.
Engkaulah malam yang memberikanku ketenangan dan harapan.
Bagaikan senyuman rembulan ketika matahari di balik bumi.
Seperti itulah perasaanku, tersenyum indah, senang, tenang, dan siap menatap esok hari.
Anganku tak terbataskan oleh waktu, atau mungkin materi.
Kadang dia (anganku) datang dengan sendiri.
Pergi tanpa permisi.
Tetapi.
Engkaulah yang selalu menyalakan api anganku dalam menyertakan doa untukku, untuk kita, di kemudian hari.
Mungkin aku bukan manusia yang sempurna.
Aku berusaha untuk menjadi sempurna, walau aku harus memindahkan Menara Eifel dari titik kordinatnya.
Wahai pujangga hati.
Kumohon jangan pergi.
Aku tak dapat menjadi berarti.
Jika engkau pergi dan meninggalkanku sendiri.
Kadang, Tuhan punya jalanNya.
Dan, ku percaya kaulah jalanku untuk menuju masa depan.
Yang dimana hanya ada kebahagiaan, cerita, derita, masa sulit, yang terpenting kita dan buah yang kita hasilkan dari cinta murni kita.
Selamat tidur wahai wanita penyejuk jiwa.
Malam memang telah menjadi siang.
Kuharap engkau dapat menikmatinya dengan naungan Tuhan dan berkahnya yang banyak.
Untuk wanita penyejuk jiwa.
Langganan:
Postingan (Atom)