Rabu, 08 Juli 2015

Yang Terjelaskan


Halo.. lama kiranya saya tidak pernah menulis lagi di dalam blog saya. Hampir setahun mungkin lebih saya tak banyak berbicara panjang dan lebar dalam postingan blog yang saya buat kalau tidak salah di tahun 2013 ini. Baiklah kalau begitu. Izinkan saya kali ini untuk menulis atau sedikit mendeskripsikan beberapa hasil jepretan saya yang saya postingkan di Instagram dalam beberapa waktu belakangan. Bagi saya, memotret telah menjadi hobi tersendiri yang setidaknya membuat saya senang akan hasil-hasil jepretan saya pribadi. Tidak bermaksud untuk menyombongkan diri, walau saya tahu masih banyak karya-karya fotografer lainnya yang masih jauh lebih bagus dari hasil jepretan saya. Tetapi, jika bukan saya yang menghargai karya saya sendiri siapa lagi? Baiklah, semoga kalian juga senang melihat beberapa hasil jepretan saya yang saya akan coba menjelaskan berbagaimacam hal dalam proses pemotretan foto-foto tersebut.

Merindukan Hujan




Saya pikir inilah foto yang tepat untuk menggambarkan keadaan hati saya di tengah musim kemarau seperti sekarang. Walaupun saya sebenarnya sedikit bosan dengan hujan yang karena musim penghujan baru saja berlalu, tetapi bayangnya seakan tidak bisa lepas dari ingatan saya selama kemarau berlangsung. Ya, saya sangat merindukan hujan. Merindukan sejuknya, merindukan dinginnya, hingga merindukan berteduh di sebuah tempat dimana langit kelabu menghiasi bumi seakan menjadi sebuah selimut raksasa yang melindungi seluruh manusia dari terpaan matahari yang kian memanas.

Foto ini diambil ketika saya dalam perjalanan menuju bandara Soekarno Hatta. Saat itu saya ingin berpergi ke kota tempat saya dilahirkan, Banda Aceh. Awalnya, saya ingin memotret sungai yang ada di gambar tersebut –yang saya tidak tahu sungai apakah itu– yang sangat menarik perhatian saya untuk mengeluarkan kamera dan menjepretnya. Sebenarnya saya lupa mengatur fokus dari gambar tersebut, dan “jepreet!!” saya menekan tuas dan jadilah gambar ini. Ketika saya melihatnya awalnya saya sedikit kecewa karena tidak berhasil mendapatkan apa yang saya mau. Tetapi saya tidak terlalu menghiraukan, untunglah tidak saya hapus. Ketika di pesawat yang menghabiskan waktu 2.5 jam perjalanan dari Jakarta ke Aceh itu, saya melihat-lihat beberapa foto yang sempat saya jepret selama perjalanan dari rumah ke Soekarno Hatta. Setelah melihat-lihat foto ini dengan teliti, akhirnya saya mulai jatuh cinta dengan apa yang saya jepret. Namun saya tidak memutuskan untuk mempostingkan foto tersebut kedalam akun instagram saya. Saya memilih menunggu waktu yang tepat untuk mempostingkan foto tersebut.

Dan setelah hampir satu setengah tahun kemudian, ketika dalam ketidakjelasan keadaan yang saya alami di sebuah hari yang panas di Jakarta saya membuka file perjalanan saya ke Aceh tempo hari pada awal tahun 2014 tersebut. Puas saya melihat-lihat keindahan cipataan Allah di ujung pulau Sumatra, mata saya tiba-tiba tertuju pada gambar tadi. Betapa inginnya saya dengan sesegera mungkin untuk mempostingkan foto tersebut kedalam akun instagram saya. Seperti yang di awal telah saya sampaikan tadi bahwasannya saya sangat merindukan hujan turun di kediaman saya, maka timbulah kata-kata Merindukan Hujan untuk mendiskripsikan hasil jepretan yang tidak disengaja tersebut. Ya saya pikir kedua kata tersebut sangat cocok untuk menunjukkan perasaan saya dan apa yang tergambarkan dalam foto tersebut dikala musim kemarau ini. Ya inilah gambaran saya mengenai foto ini, semoga kalian  – siapapun yang sudi membaca dan melihat karyaku ini – merasakan hal yang sama dengan saya, dan setidaknya dapat menggambarkan apa yang tergambarkan di dalam foto ini.

Sendiri



Inilah salah satu foto yang paling saya suka. Mengapa? Saya akan membeberkan beberapa fakta mengenai foto ini agar kalian tahu mengapa saya sangat menyukai foto ini. Pertama, di dalam foto ini saya berhasil menundukkan waktu dan momen. Ya, dengan sekali jepret saya berhasil mendapatkan foto seorang wanita  –saya tidak mengenalnya sama sekali – yang sednag menyebrang di jemabatan penyebrangan Margonda, Depok. Kedua, foto ini diambil dari jarak yang jauh. Saya dapat mengatakan bahwa saya dan perempuan ini terpisah sekitar 200 meter ketika saya mengambir gambarnya. Keadaan saat itu posisi saya sedang berada di bawah ketika foto ini di jepret. Entahlah kali ini saya benar-benar tidak bisa mendeskripsikan gambar tersebut, saya benar-benar kehabisan kata bagaimana proses saya menjepret foto ini. Semoga kalian memahami maksud saya.
Awalnya saya ingin memberi caption “Wanita Pemberani” dalam foto saya kali ini di dalam akun instagram saya, karena pandangan wanita ini sangat tegas melihat lensa kamera teman saya dari kejauhan. Saat itu saya meminjam kamera milik teman saya untuk menghunting beberapa foto disekitar Depok Townsquare. Namun, entah mengapa di dalam benak saya, saya lebih suka memberi caption “Sendiri” dalam foto ini. Alasanya saya melihat wanita di dalam foto ini memiliki karakter yang kuat dan tangguh sehingga dia dapat menjalani hidup sendiri tanpa adanya pengaruh yang dapat mempengaruhi wanita itu dalam perjalanan hidupnya. Ya, itulah alasan saya menggambarkan foto ini. Kalian boleh saja berpendapat lain, tetapi inilah pendapat saya dan saya suka.

Sekian postingan blog saya kali ini. Niatan saya hanya ingin mendeskripsikan dua foto hasil jepretan saya sendiri yang saya suka. Apapun pendapat kalian mengenai foto-foto di atas itu adalah hak kalian untuk menilainya dari sudut pandang manapun. Disini saya hanya ingin menjelaskan sudut pandang saya mengenai foto-foto tadi. Tak masalah bagi saya, karena menurut saya sebuah karya seni pastilah semua orang memiliki beberapa pandangan yang tidak bisa dipaksakan. Seni itu untuk dinikmati, diresapi, dikhayati, dan dibayangkan. Kalau perlu di khayalkan. Semoga kalian suka. Terimakasih telah sudi melihat-lihat blog saya terutama postingan saya mengenai foto-foto ini.