Hallo. Sekarang gua lagi mau menceritakan sedikit pengalaman gua dan
teman-teman gua yang kemarin tanggal 11 Juni berhasil menjadi pemenang di acara
Ranking 1 *pinterr gak tuhh* hehehe. Jujur aja ni ya, gua baru pertama kali
mengikuti acara ini sejak jantung gua pertama kali bekerja pada tanggal 14
Agustus 1994 yang lalu. *hehehe promosi ulang tahun dikit*
Hari itu gua gak tahu gimana
menjalani hari-hari gua yang penuh dengan kesepian. Gua ingat waktu itu tanggal
7 Juni. Ya, pengumuman kelulusan sekolah sudah berada di genggaman gua, dan
tugas gua waktu itu hanya tinggal menikmati hidup dan berusaha untuk masuk ke
Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Asal kalian tahu. Gua dan teman-teman terkutuk
gua gak bakal bisa tampil di acara ranking 1 tanpa sosok seorang anak manusia
ini. Ya, dia adalah Restia! Doi ngebet banget mau bekerja jadi crewnya Trans
TV. Oke deh, daripada lama-lama, kita tampilkan ceritanya aja ya sekarang.
Boleh gak? Kalo gak boleh, yaudah urusan lo!
Jadi gini. Saking ngebetnya si
Restia untuk ingin menjadi crew Trans TV, doi iseng-iseng buka webnya Trans TV.
Entah setan atau malaikat apa yang memaksa dia untuk membuka web itu. Yang
pasti, saat ia menuliskan alamat www.transtv.com itu adalah awal dari proses kami
untuk tampil dan menjadi juara di acara ranking 1 Trans TV. Waktu itu tahun
2012. Gua, dan teman-teman gua termasuk sang juru kunci ranking satunya sekolah
gua, empuh Restia masih kelas 11. Saat doi masuk ke webnya trans tv, untuk
melampiaskan ke-kepoanya mengenai TransCrop, ia melihat Ranking 1 yang menjadi
pembuka tab laptopnya. Nah, dari situ keisengannya muncul. Entah karena apa,
menurut gua mungkin Restia pengen banget ikut salah satu acara di Trans TV yang
konon katannya crewnya itu ganteng-ganteng buuaangeeet!! Oh my godhh!! *penulis
melted* dan dari itulah salah satu alasan Restia untuk ngebet banget menjadi
crewnya trans tv. Cukup masuk akal juga sih.
Okeh kita balik ke topik
hidayat. Eh maksud gua ke topik semula, *maaf kalo agak jayus* :P Nah dari
keisengannyalah Restia mendaftarkan sekolah kami yang penuh berkat itu. Setelah
ia memasukkan semua data mulai dari, nama anak-anak yang ingin mengukuti
ranking 1, nama sekolah, nama guru, ukuran sepatu, ukuran celana dalam, ukuran
baju dalam, bahkan ukuran kaus kutangnya Mang Gaper officeboynya sekolah pun ia
masukkan selesai, lalu ia kirim melalui email. Dan yak, terkirim dengan
selamat. Gua yakin, pasti pada saat ia mendaftarkan ranking 1 itu pasti Restia
excited banget. Konon ada cerita saking excitednya doi, dia sampai lupa
mematikan keran bak kamar mandinya sampe
itu kamar mandi sudah tak jauh beda sama danau yang ada di sekolah gua. Hahaha.
*gak lucu pun, ketawa. Dasar penulis pe’ak*
Keesokan harinya di sekolah
Restia menceritakan tentang apa yang kemarin ia lakukan.
“Eh eh, tau
gak? Gue kan daftar sekolah kita ke acara ranking 1 trans tipi” dengan
senangnya Restia menyampaikan kabar gembira itu ke teman-temannya.
“Serius
Res? Kapan kita kesananya? Hahaha” kata si gembul Sarah
“Gua juga
belum tau Sar, nanti dihubungin lagi kayanya seminggu lagi Sar”
“Wah gua
harus ikut! Numpang masuk tipi hahaha!!” si telmi Bella nyambar dengan muka
polosnya yang sudah sepolos ban bis sekolah gua karena sejak 1898 sudah tidak
pernah diganti. Mungkin lebih kasar muka gua daripada ban bis renta itu.
Seminggu, sebulan, dua bulan,
tiga bulan, tiga kali lebaran, tiga kali miscall dari malaikat pencabut nyawa,
kabar dari transcrop tak kunjung datang. Dan kabar tentang adanya ranking 1 di
sekolah itupun lambat laun sirna seperti rambut gua yang makin lama makin botak
karena faktor gen ini. *janganketawa!!*
Gua bisa ngebayangin muka melas
Restia yang menunggu kabar dari transcrop seperti seekor anak burung yang
menunggu makanan dari induknya yang ketembak oleh militer Israel. Kasihan juga
kalau mengingatnya. Tapi itu hanyalah masalalu Restia yang kelam yang
sepertinya tak pernah bisa ia lupakan.
Singkat cerita nih, tanggal 6
Juni kemarin tahun 2013. Tepatnya tanggal 6 Juni jam 8 menit ke 35 dan detik ke
54 Restia menerima sebuah telepon. Awalnya ia malas banget angkat ntu telepong
karena ia pikir telepon itu berasal dari salah satu lembaga pendidikan yang
sukses membuat membuat telinga dan hapenya panas, hingga cairan hijau yang ada
di dalam kupingnya ikut mateng dengan aroma yang sangat lezat bagai sambal ijo
di warung Padang Jaso Mande. Namun yang namanya rejeki ya gak kemana. Dan
dengan keterpaksaan ia angkat telepon itu dengan nada malas.
“Hallo, assalamualaikum”
“Waalaikumsallam,
benar ini Restia dari SMA Taruna Terpadu (nama sekolah gua :D)?”
“Iya betul
mbak. Ini dengan siapa ya?” perasaan Restia udah mulai gak enak, takut cairan
ijo yang ada di kupingnya mateng lagi.
“Ini kami
dari crew ranking 1 trans tipi”
Mendengar kata-kata itu Restia langsung loncat dengan semangat yang
dibumbui dengan sedikit gemetaran. Kata bantal dan gulingnya yang gua wawancari
sih waktu tau itu dari ranking 1, ia sempat melayang seperti gak ada gravitasi
bumi yang menariknya pada saat itu. Entahlah, itu cuma bantal dan guling yang
penuh dengan pulau-pulau yang Restia buat semalaman penuh. Oke kita lanjut ke
percakapan.
“Oh ya, ada
apa mbak” Restia nyengir kuda.
“Kami mau
mengundang anak-anak SMA Taruna Terpadu untuk main bersama kami. Bisa?”
“Bi.. bisa
dong mbak pasti hehehe. Tapi untuk tanggal berapa ya?”
“Hhhmm kalo
untuk SMA Taruna Terpadu itu dapat jadwal hari selasa tanggal 11 Juni 2013.
Gimana? Bisa gak?”
Dan dengan kebingungan apakah
anak-anak di sekolah gua mau ikut apa enggak, sama tidak tahu harus ngejawab
apa, akhirnya Restia bilang:
“Hhhmm
mbak, boleh saya tanya guru saya dulu gak? Nanti kalau sudah fix saya
konfirmasikan ke nomor ini lagi ya?”
“Oke
makasih ya atas partisisapinya. Ditunggu jawabanya segera.”
“O..oke
mbak”
Nah, dari situlah Restia
langsung pontang-panting pergi ke sekolah untuk mengabarkan berita itu kepada
guru-guru yang ada di sekolah.
Namanya bu Erna. Banyak sekali
murid-murid yang suka jika diajarin dengan guru itu. Mungkin karena dia adalah
seorang fresh graduated dari IPB, jadi jiwa mudanya masih
Seperti yang udah gua ceritain
tadi, waktu itu tanggal 7 Juni gua gak tahu harus berbuat apa. Dan di sore hari
tiba-tiba hape gua bergetar. Ada sms dari bu Erna, kira-kira smsnya begini:
“Asw. Hai2
calon mahasiswa :D! TarTer (Taruna Terpadu) diundang untuk berpartisipasi di
acara ranking 1 tanggal 11 Juni, di TMII. Siapa yang mau ikut, tolong
konfirmasikan ke saya.”
Dan gua membalas dengan
mengatakan kalau gua ikut. Tapi gua langsung ke taman mini, karena pada saat
itu gua sudah gak tinggal di Bogor lagi, tapi sudah tinggal di Jakarta di rumah
paman gua, yang kebetulan jarak dari rumah tidak begitu jauh ke taman mini.
Tak hanya bu Erna yang berjuang
untuk membujuk anak-anak sekolah gua untuk bisa mengikuti acara di ranking 1.
Restia dan Abdul pun setengah hidup membujuk anak-anak yang kelas tiga yang ada
di sekolah gua untuk mau mengikuti ranking 1. Maklum saja, mungkin karena
pengumuman kelulusan sudah di kasih, jadi banyak anak-anak yang sudah pergi ke
luar kota untuk melanjutkan pendidikan mereka ke perguruan tinggi negeri.
Gua masih ingat ekspresi muka
Restia yang memaksa Aaron untuk ikut ke ranking 1. Ya, dengan muka yang tak
jauh beda dengan orang yang sering duduk di kaki lima, Restia dengan sekuat
tenaga membujuk si pesong Aaron untuk mengikuti acara itu. Namun manusia
penyakitan itu tidak mau untuk ikut, dengan alasan kalau dia punya perasaan
yang gak enak. Dari kata Aaron itu Restia semakin lemas dan kehilangan
semangatnya untuk membujuk teman-teman gua untuk ikut ke ranking 1. Gua rasa
usaha Restia, bu Erna, dan Abdul untuk membujuk teman-teman gua seperti pengembala
yang mengembala domba-domba liar yang sangat susah untuk di masukkan ke
kandang.
Karena kesulitan memaksa
anak-anak kelas 12 untuk ikut ke acara ranking 1, entah malaikat apa yang
membisikkan pak Aman untuk mengajak anak kelas 11 yang saat sedang menjalani
proses ukk atau ujian kenaikan kelas. Demi kaus kutangnya Mang Gaper, gua sempat
gak percaya kalau pak Aman yang menyuruh anak-anak kelas 11 untuk ikut ke acara
itu. Ya, karena semua orang yang ada di sekolah itu tau kalau pak Aman adalah
guru yang kadang bisa dibilang killer, Hitller, dan kadang bisa juga berubah
menjadi manusia yang baik. Semoga Allah memberkati beliau. J Tapi manuver itu juga tidak mampu
mengumpulkan 50 manusia untuk ikut serta ke acara itu. Namun singkat cerita,
pada saat H-2 sebelum acara dimulai, akhirnya perjuangan Restia, bu Erna, dan
Abdul tuntas. Dan sukses membuat Restia kembali tersenyum kuda karena tak sabar
untuk melihat kru-kru trans tipi yang ganteng-ganteng itu. *ohh my godhh
ganteng buangeeettt!!!* #EfekLiatForumGayOnline
Sehari sebelum acara ranking 1
di adakan, teman-teman gua pada nginap di sekolah. Hal ini menurut gua wajar,
karena crew transcrop mengatakan kalau jam setengah 6 rombongan sudah harus
sampai di taman mini. Dari sinilah semua strategi dirancang oleh bu Erna. Walau
gua gak ikut nginap di sekolah, tapi gua bakal nyeritain ke lu pada ceritanya secara kronologi.
Sore itu baru hanya sebagian
murid yang datang untuk menginap di sekolah gua yang penuh dengan rahmat itu.
Namun saat matahari mulai terpeleset, anak-anak mulai berdatangan satu-persatu.
Termasuk sang guru kesayangan para murid bu Erna. Semua berkumpul untuk membuat
perlengkapan acara yang saat itu bertemakan ospek. Jadi perlengkapan anehpun
dibawa sama teman-teman gua. Yang gua bayangin sih, keadaan di ruang guru pada
saat itu gak jauh beda dengan pasar induk yang ada di Kramat Jati, dimana ada
sayur-mayur dan buah-buahan. Rencananya pada pengin buat kalung atau aksesoris
dari sayur dan buah-buahan itu. Pokoknya banyak pengalaman konyol yang mereka
rasakan pada saat nginap. Sayang, gua gak nginap L. Tapi kalo gua nginap bakal lebih
membuat kantong gua kosong menipis. Yasudahlah…
Pada saat anak-anak sedang
membuat aksesoris dari sayur-mayur dan buah-buahan, tiba –tiba bu Erna
menyampaikan dua plan untuk menghadapi acara tersebut. Seperti seorang jenderal
yang berbicara kepada semua pasukannya untuk menghadapi musuh, walau musuh itu
mempunya persenjataan lengkap. Tembakan air. Bu Erna bilang kayak gini.
“Pokoknya
kita kesana dengan dua misi! Kalau gak jadi juara, ya minimal kita jadi group
terheboh!! Setuju??!!!” bu Erna dengan semangat berorasi.
“Setuju!!!”
semua anak menjawab dengan semangat yang lagi ngebooming banget.
Rencananya, mereka mau jalan jam
4 pagi dari Bogor. Takutnya telat atau bagaimana, sehingga mereka rela tuh
nginap di sekolah. Sungguh pengalaman yang menyenangkan. J Setelah tidur dan bangun jam tiga
pagi untuk shalat Tahajud sekalian minta sama Allah untuk diberi hari yang
indah besok, anak-anak pada bersiap untuk pergi ke Jakarta, tepatnya ke Taman
Mini Indonesia Indah untuk bertempur. Jam empat pagi mereka sudah stay di depan
sekolah untuk menunggu bis tua itu. Sialnya, bis terkutuk itu tidak kunjung
datang sampai azan subuh mengalun dengan indahnya memecah kesunyian di waktu
pagi.
“Arrgghh!!
Kemana sih bis nya??? Sebbell deehh!! Gua takut telat nih! Kan gak lucu.”
Restia mulai gelagapan.
“Sabar Res.
Kita shalat subuh dulu yuk!” bu Erna mencoba menenangkan Restia yang sudah
mulai panik.
Setelah mereka teman-teman gua
shalat subuh. Mereka pun kembali menuju parkiran sekolah untuk menunggu bus
itu. Dan lagi-lagi bis yang sepenuhnya terkutuk itu tak kunjung datang.
Mengetahui situasi ini, kesabaran bu Erna akhirnya habis. Ia memutuskan untuk
menelpon supir bus itu yang tadinya dia pikir masih bermimpi di ranjangnya.
“Hallo.
Assalamualaikum. Pak sudah dimana?!! Kami sudah lama nunggu nih. Kan kemarin
jam empat subuh kita sudah harus berangkat!” bu Erna berbicara dengan nada yang
tinggi, sehingga membuat semua murid terdiam dan tak menduga kalau bu Erna bisa
setegas itu.
“Ia bu.
Saya sedang di jalan. Sabar dikit doong!” kata supir bis yang sebenarnya ingin
mengatakan “kampret lu berisik amat!”.
“Ya gak
bisa begitu dong pak! Kami sudah menyewa bis ini!! Pokoknya dalam 5 menit sudah
sampai di sekolah!! Saya gak mau tau!” bentak bu Erna dengan tegangan tinggi
bagai pembangkit listrik bertenaga nuklir tanpa memiliki coolant di dalamnya.
Terlihat asap sedikit mengepul di kepalanya. Eh gak taunya itu adalah asap
rokok Mang Uwo, sang penjaga sekolah.
Dan tidak sampai 5 menit
akhirnya bus tua itu datang. Dan melanjutkan perjalanan ke Bogor. Rupanya.
Ketegangan gak sampai di situ. Mungkin karena si supri eh supir merasa bersalah
karena telat, akhirnya doi memutuskan untuk meng-kick pedal gas dalam-dalam.
Hampir sama dengan kecepatan mobil Subaru yang ada di Need for Speed Underkolongtempattidur.
Memang sih, si supir sepertinya sudah sangat menguasai jalan tol Jagorawi itu.
Bayangkan saja, jarak Bogor-Taman Mini hanya di tempuh dalam waktu sekitar 35
menit. Kalau gua sama paman gua dari Bogor ke Cijantung biasanya nyampe sekitar
55 menitan.
Oke, dari tadi kita sudah
ngomong tentang teman-teman gua. Dan sekarang gua mau menceritakan keadaan gua
disaat malam menuju acara itu. Boleh ya.. pliss. *muka melas, mata berbinang
airmata kaya tokoh film jepang yang ganteng* *jangan muntah!!*
Malam itu gua seperti biasa. Shalat magrib, dan membantu tante gua untuk
menjaga warung kelontong miliknya. Ya, seperti malam biasanya aja. Bahkan gua
sempat lupa tuh kalo besok ada rencana mau ikut ke acara ranking 1 di
transtipi. Waktu pengen tidur, gua baru keingat. Oh ya, besokkan gua mau ke
ranking 1. Oke deh gua tidur, batin gua. Paginya gua bangun. Dan shalat subuh.
Tumben tuh pagi itu gua shalat subuh di mesjid. Walau jarak mesjid sama rumah
bagaikan jarak mulut sama hidung, tapi kalo subuh gua jarang pergi ke mesjid.
Lebih sering shalat di rumah. *jangan ditiru ya, lebih baik shalat di mesjid
biar banyak pahala. Aseekk!!* #EfekNontonCeramahUje
Gua siap-siap dan pamit sama
paman dan tante gua. Paman gua anterin gua ke depan supaya bisang langsung naik
angkot ke arah taman mini. Dari perempatan Pasar Rebo, gua naik angcot (bacanya
angcot, pake huruf ce ya :P) 15 dan nyambung naik angcot 02. Pas gua nyampe ke
taman mini, mungkin baru seperempat sekon, gua liat sebuah bis dari kejauhan.
“Wah pasti
anak-anak nih” kata gua dalam hati.
Gua di situ udah nyengir-nyengir
kuda nil nunggu temen-temen gua yang gua rindukan. #EfekBacaNopel. Dan saat bis
itu lewat di depan congor gua, gua sudah melemparkan senyum hangat, sehangat
bokong gua kepada para penghuni bus. Dan ternyata eh ternyata, yang ada di
dalam bus itu adalah anak sekolah dari SMA 1 Chabitoeng. Yang anaknya pada
chabi chabi kaya babi gimanaa gitu. *don’t laughing and don’t angrying*
Kamfrree~et. Sumpah malu banget gua. Senyum-senyum sama orang yang gak
kenal. Dikira gua orang gila yang berpenampilan kece kali. Sialan. Untung
senyum gua hangat, sehangat bokong gua. Makan tuh bokong! Kata gua dalam hati.
*hehehe sorry bahasanya agak nakal. Maklum sekiditlah*
“Kayanya
masih lama. Ketoprak enak tuh! Kesana ah.” Cacing yang ada di perut gua
melakukan referendum yang memutuskan gua untuk sarapan.
5 menit….
10 menit…
15 menit…
Sampe ke 45 menit..
“Kemana
sih??!! Pada niat datang gak nih?” gua ngeluh sendiri gak jelas. Sampe tukang
ketoprak bilang dengan polosnya.
“Udah
diminum dek obatnya?”
Sialan lu! Gua berkata dalam
hati dan hanya tersenyum melihat si tukang ketoprak. Akhirnya gua sms bu Erna.
“Bu udh dmn?
Sy udh nnggu lumutan nih dsni.”
“Bntr Ndi.
5 mnt lg kami sampe kok”
“Oh yaudah”
Dan akhirnya setelah 45 menit
menunggu bus itu. Akhir dari kejauhan gua melihat mobil bus Agar dari kejauhan.
Warnanya merah dan ada tulisan putih di sebelah kanan dan kiri, yang menandakan
nama bus itu, Agar. Sumpah demi celana dalam abang-abang tukang ketoprak, gua
gak nyangka kalo itu bus busuk amat. Mungkin lebih bagus bis kopaja yang baru
kali ya. Hahaha gua tertawa dalam hati.
Akhirnya semua anak-anak turun,
dan prepare semua untuk briefing dengan kakak-kakak trans tipi yang ganteng itu.
*ohh my godhh* awalnya gua pengen duduk di barisan paling belakang, supaya muka
gua yang kaya Grand Canyon dan rambut gua yang kaya hutan gundul Sumatra ini
gak keliatan. Ternyata, barisan belakang sudah penuh sama anak-anak. Sialan
masa duduk di depan sih. Gua membatin. Yaudah di depan. #pasrah #berdoa
#bibirgemetar #celanadalammelorot
Akhirnya setelah briefing sama
kakak-kakak transcrop, acara pun di mulai. Disitulah gua melihat Ivan Gunawan
dan Rubben di depan congor gua. Sumpah, Ivan itu gede banget. Pahanya aja udah
hampir sama kaya tiang baliho yang ada di perempatan Cinongneng. Dan yang lebih
membuat gua malu, gua dikerjain sama dua presenter pesakitan itu. Siapa lagi
kalau bukan Ivan dan Rubben. Tapi untuk apa malu. Seluruh Indonesia gak ada yang
kenal sama gua ini :P
Dan mulailah pertanyaan pertama
yang dibacakan oleh si papan reklame, Ivan.
“Apa
singkatan dari MOS?”
“A. Masa
Orientas Siswa. B. Masa Obok-obok Siswa” lanjut Rubben.
“Hah cuma
gini doang gua mah bisa” batin gua meremehkan. Setelah menuliskan jawaban di
papan tulis, akhirnya gua angkat. Dan benar!! Semua orang berteriang
kegirangan. Termasuk rival kami SMA 1 Cibitung.
Lalu iklan. Disaat iklan ini
semua ada sebuah video yang sengaja diputar oleh crew transcrop. Video ini
berisi tentang harimau putih Benggala. Gua sempat mikir, pasti pertanyaan
selanjutnya tentang ini. Makanya gua perhatiin ntu video. Tapi sayang, hanya
sedikit yang memperhatikan video itu. Setelah acara kembali, ternyata benar
perkiraan gua tadi. Pertanyaan kedua adalah, kira-kira seperti ini.
*video
diputar
*semua
orang ngeliat ke video
*video
selesai
*Ivan nanya
“Berasal
darimanakah harimau Benggala?”
“A. Mesir,
B. India” Rubben melanjutkan.
Setelah gua menulis jawaban. Dan
tibalah saat presenter itu mengatakan jawabanya. Dan ternyata jawaban gua dan
semua teman-teman gua dari sekolah Taruna Terpadu benar semua. Yang gua kaget
peserta di sebelah gua yang berasal dari SMA 1 Cibitung, yang terlihat pintar
salah. Semoga Allah memberkati dia.
Ada satu momen yang gua pikir
ini terlalu berlebihan untuk seorang anak manusia. Pada saat pertanyaan ke tiga
ini, sebenarnya adalah sebuah pertanyaan konyol yang ranking 1 berikan kepada
peserta.
“Etc adalah salah satu singkatan dari
bahasa Inggris. Pertanyaanya adalah, apakah kepanjangan dari etc itu?” si Rubben dengan semangatnya
membaca pertanyaan itu kepada kami.
“A.
Etcetra, B. Es cetar membahana.”
Gua sempat bertanya dalam lubuk
hati gua. ‘whaat?? Are the kidding me? Hahaha.’ Sungguh sebuah pertanyaan
konyol yang gua pikir semua peserta bisa menjawabnya. Lagi-lagi setelah gua dan
teman-teman gua menjawab pertanyaan itu, kami mengangkat jawaban kami. ‘Ini mah
benar semua. Cuma manusia purba yang gak bisa menjawab pertanyaan konyol ini. Hahaha’
remehan gua berhasil mengalahkan kesunyian yang ada di hati gua.
“Dan
jawabanya! Adalah, A. Etcetra. Ayo siapa yang salah??” kata si tiang baliho
Ivan.
‘Sungguh keterlaluan kalau ada
yang salah ini mah’ hati gua kembali komat-kamit. Dan tiba-tiba muncullah dua
sosok manusia purba yang tadi gua bilang. Yang paling belakang udah keburu
kabur, mungkin takut diburu sama presenter Ivan dan Rubben. Dan yang tersisa
adalah manusia purba yang berada di barisan depan. Sumpah itu momen paling
konyol yang pernah gua alami.
“Siapa yang
salah? Ada?” kata Rubben.
“Hah? Ini salah?
Serius kamu?” si Rubben tak percaya.
“Semua
orang punya jawabannya Ben!” si Ivan dengan belagak sok bijak menjawab
Sudahlah, untuk apa kita
membahas itu. Yang lalu biarkanlah berlalu, yang purba biarkanlah dia tetap
purba selamanya. Kecuali si purba mau merubah dirinya sendiri. Dan tibalah
sebuah pertanyaan dimana gua terhempas dari acara itu. Sebuah pertanyaan
praktikum tentang hokum Newton 1 berhasil menendang sekitar 60% teman-teman
dari SMA gua. Termasuk gua sendiri. Saat itu pertanyaannya, si Sogi nyentil
sebuah koin yang di dasarnya dikasih sebuah kartu yang ditaro di atas sebuah
gelas. Waktu dia nyentil kartunya, si koin itu jatuh kedalam gelas tadi. Nah pertanyaanya,
“Jika koin
ditambah menjadi dua, apakah koin yang ada di bawah dua-duanya atau hanya salah
satu saja?”
‘Ah ini baru pertanyaan. Tapi gua
bingung.’ Gua berusaha untuk berfikir logis.
“A. Jatuh
salah satu, B. Jatuh keduanya” kata si Dogi. Eh maksud gua Sogi.
Waktu tu feeling gua udah gak
enak. Yaudah gua jawab A. Dan ternyata jawaban gua salah. Wah yaudahlah mungkin
gua gak dapat rejekinya. Pikir gua dalam hati. Gua memang jarang menonton acara
ini. Maklum aja ye, gua dulu gak punya tipi untuk nonton, karena ngekost. Hahaha
#norak #tepokjidad
Waktu pertanyaan terakhir yaitu
pertanyaan cepat tanggap. Dan dialunkanlah piano dengan nada nina bobo. Aji. Anak-anak
sering memanggilnya Kelong. Anak ini memang terkenal pinter sih, di sekolah. Ini
anak betah banget ngegantung di peringkat 5 keatas. Mungkin hari itu adalah
harinya si Aji. Dengan cepat dia tulis ‘nina
bobo’ di papan tulisnya. Akhirnya seperti yang tadi dikatakan kalau siapa yang
berhasil mengangkat duluan dan benar, dialah yang akan menjadi pemenangnya,
yang berhak untuk memilih 10 orang teman untuk membantu mendapatkan hadiah.
Jujur aja nih, gua gak tahu
kalau bakalan dipilih sama si Kelong. Gua kira sehabis gua dipilih akan ada
seperti yang tadi tanya lalu jawab dengan papan. Eh, gak taunya itu adalah
finalnya untuk mendapatkan duit. Untunglah gua barus sadar kalau acara itu
sudah selesai. Jika sebelum selesai gua sadar, mungkin bisa-bisa kolor gua
melorot lagi kali gara-gara gugup. *gugup sama kolor melorot? Apa hubungannya?*
#stress
Dan dipilihlah 10 orang yang
menurut si Kelong bisa dipercaya. Setelah berkumpul dan berfoto untuk diberi
semangat sama teman-teman gua yang memberi semangat dari belakang, kami
akhirnya berbaris di stage. Gua berdiri di baris ke dua dari 10 baris. Waktu itu
gua tepat di belakang si Kelong yang juga terlihat agak gugup. Sumpah, gua
gugup habis. Hal yang paling gua takutin adalah tidak bisa menjawab saat
pertanyaan itu dilempar ke gua. Akhirnya gua menyuruh Haidar adik kelas gua
yang katanya ganteenng buaanggeeeddhhh untuk maju dan gua mundur. Rupanya tindakan
itu benar.
Waktu pertanyaan pertama
dilemparkan ke Aji, dengan pertanyaan bahasa Indonesia yang gua lupa apa yang
ditanya oleh Rubben, akhirnya Aji bisa ngejawab pertanyaannya dengan sempurna. Dan
pertanyaan kedua. Si Haidar, di tanya dengan soal bahasa Inggris. Jujur gua aja
yang katanya agak jago bahasa Inggris bingung harus ngejawab apa. Dan si Haidar
pun akhirnya gak bisa jawab tuh pertanyaan. Dan tibalah saat gua untuk di
tanya. Nah, kalau ini gua masih ingat apa yang ditanya. Waktu itu pertanyaanya
nama lembaga yang membuat undang-undang adalah? Jujur aja, setengah pertanyaan
dibacakan ke gua, otak gua blank. Tapi karena gua mendengar kata terakhir ada
undang-undangnya untungnya gua langsung konek dengan kecepatan 50GB/s. Dan
seketika gua jawab ‘DPR’. Akhirnya gua benar. Hahaha senang karena teman-teman
gua menyorakin gua. Untung gua pindah, kalau gak, gak tahu dah apa jadinya.
Singkat cerita, sekolah kami
berhasil mengumpulkan uang sekitar 11 juta. Ya lumayanlah menurut gua. Saat itu
gua Cuma dapat 200 rebu aja, tapi semua gua ikhlasin hitung-hitung amal. Itulah
salah satu cerita yang pernah gua alami oleh gua dan teman-teman gua. Okeh, gua
nitip pesan disini. Pesannya adalah, jika kita ingin mengerjakan sesuatu,
lakukanlah dengan sesenang mungkin. Tapi ingat jangan terlalu kesenangan. Dan fokuslah
terhadap prosesnya, jangan terlalu berharap dengan hasilnya. Proses okeh, hasil
the best. Hehehe sok bijak banget gua.
Dan akhirnya kedua strategi yang
kemarin bu Erna bilang, tercapai. Selain menang, kami juga menjadi penonton
yang paling heboh. Yang lebih insanenya lagi waktu sepanduk yang katanya dibuat
sama pak Aman malam-malam dibaca dengan si Rubben dan Ivan. Mungkin menurut
orang gak penting amat sih? Tapi menurut gua, teman-teman, dan guru gua itu
adalah suatu kebanggaan yang gua dan teman-teman gua terakhir persembahkan
kepada sekolah disaat kami ingin pamit untuk meneruskan pendidikan ke perguruan
tinggi. Semoga semua angkatan 7th Generation menjadi ranking 1 di
setiap bidangnya masing-masing. Amin.
Ini foto-foto gua dan teman-teman gua saat di ranking 1.. hehehe
 |
| kalau yang ini teman-teman gua yang ikut ranking 1. |
 |
| ini dia si Aji dan bu Erna guys. |