Halo, Indonesia. Apa kabarmu? Lama tidak bersua bukan berarti aku lupa
dengan kamu ya. Kudengar kau sedang diselimuti ribuan masalah dan ratusan
masalah baru yang seakan menambah pusing manusia yang ada di dalam-mu. Bolehkah
aku bertanya wahai Indonesia? Bagaimana dengan kesejahteraan? Bagaimana dengan pembangunan?
Dan, bagaimana dengan kondisi para pendongkrakmu? Baiklah, lupakan sejenak
mengenai kesejahteraan dan pembangunan. Aku mengawatirkan para pendongkrak yang
kudengar akhir-akhir ini cukup menyedihkan. Tahukah kamu wahai Indonesia apa
siapa itu para pendongkrakmu? Dia adalah manusia-manusia tulus, dan penyabar,
yang diciptakan Si Maha Tulus untuk membangunmu dari sisi yang paling dalam.
Sebuah peradaban, tidak
akan maju jika tidak ada manusia yang rela mengorbankan pemikirannya demi
manusia suci yang baru lahir yang ada di dalam sebuah bangsa itu. Bahkan seperti
yang telah kita ketahui bersama, peradaban besar adalah sebuah maha karya yang
dibangun oleh mereka sering bilang dengan guru. Wahai Indonesia, aku ingin
bertanya sekali lagi denganmu, bagaimanakah keadaan guru yang ada di dalam-mu? Tidakkah
kau berfikir kalau mereka mengorbankan hidupnya demi kepuasan keingintahuan
anak-anak suci yang ada di dalam-mu? Tidakkah terlintas di benakmu, bagaimana
keadaan guru-guru yang berada di ujung kendalimu? Guru-guru yang kata mereka
berada di daerah perbatasan antara pengaruh-mu dan pengaruh tetanggamu?
Aku yakin. Jika bukan
karena kasihan denganmu, dan tak tega melihat anak-anak yang ada di dalam-mu
dengan rasa ketidaktahuan mereka, mereka (guru-guru) sudah pasti pindah ke
tetanggamu untuk mencari sesuap nasi, atau sejenis penghargaan agar mereka
lebih termotivasi lagi untuk mengajar. Kudengar tetanggamu sudah mulai, hhmm
atau memang sudah lama mereka memuliakan para pendongkrak mereka. Kudengar tetanggamu
sudah memandang sebagai kebudayaan mereka, kalau seorang guru itu kedudukanya
sama seperti profesi luar biasa yang ada di negaramu (Indonesia). Dan kalau
kudengar juga nih, kalau kedudukan guru yang ada di sana sudah sderajat dengan
pilot, ataupun dokter. Bahkan lebih dari itu, para guru juga sudah menikmati
nikmatnya dunia walau tetap dalam kesederhanaan mereka sebagai guru.
Bagaimana keadaanmu
Indonesia? Sudahkah kau meniru seperti mereka para tetanggamu? Hah? Apa? Kamu bilang
kamu tidak mau meniru orang lain? Terus mengapa kalau begitu kamu dengan
seenaknya meniru musik dari para tetanggamu? Sudahlah jangan kita bahas itu. Peniruan
itu penting. Tapi ingat wahai Indonesia, meniru itu dalam bentuk yang baik,
seperti yang sudah aku katakan tadi. Apasalahnya kamu meniru tetanggamu yang sudah
memuliakan para pendongkrak mereka? Tidak ada yang salahkan? Aku mendengar
beberapa waktu yang lalu, kalau ada guru yang membangun sekolah di sebuah desa
yang ada di bagian barat-mu. Cukup prihatin aku mendengar, dan melihatnya wahai
Indonesia. Kemana saja kamu? Tahukah kamu, kalau guru itu rela datang dari
jantungmu hanya untuk mendidik anak-anak suci yang ada di bagian barat-mu itu? Aku
lupa siapa namanya, tapi jika aku bertemu dengannya, pasti sudah ku kenalkan
kau kepadanya. Suapaya kamu bisa saling bertukar pikiran terhadap apa yang dia
rasakan.
Mendirikan sebuah gubuk
bekas kandang sapi, dan kemudian ia sulap menjadi ruangan untuk mengajar
anak-anak dari suku pedalaman. Tak ada patokan harga tertentu bagi para murid
yang ingin belajar di sekolah itu. Yang ada hanyalah sebuah kotak amal yang
mungkin bagi mayoritas anak-anak suku pedalaman itu tidak mengetahui uang “Imam
Bonjol”, “Pattimura”, apalagi uang “Soekarno-Hatta” yang bersinar itu, yang
akhir-akhir ini sering menjadi pelacur atau bahan rebutan bagi para mualim yang
mengendalikan dirimu. Tak perlu upah banyak, mengajar sahaja, si guru yang tak
dikenal itupun sudah merasakan nikmatnya hidup di dunia. Dia tak peduli betapa
susahnya ia hidup, ia tak peduli betapa sakitnya ia menahan genggaman dari
lambungnya yang sepertinya sangat sekali merindukan nasi.
Hai Indonesia. Ingatlah. Mengapa
aku mengandaikan seorang guru sebagai pendongkrakmu? Seperti yang telah
kukatakan tadi, guru itu adalah seorang pembuat maha karya dari sebuah
kemajuanmu, atau yang lebih sering mereka katakan kemajuan sebuah bangsa. Sebuah
pembangunan harus dimulai dari hal yang paling bawah, yang paling dasar. Tidak dengan
membangun bangunan megah, atau mungkin membangun bangunan indah yang mereka
para tetanggamu seakan mengagumimu di tengah ejekan mereka terhadapmu, karena
manusia-mansuiamu itu tidak berkualitas. Ayolah Indonesia. Aku mohon kepadamu,
hormatilah mereka para pendongkrakmu. Sejahterakanlah mereka. Buatlah sistem
pembelajaran yang sesuai dengan karakter anak-anak yang ada di dalam-mu.
*selamat hari guru. Tidak ada guru, bangsa ini akan menjadi bangsa
pecundang yang rela diombang-ambing dengan bangsa lain. Terimakasih guruku. Cintaku,
takkan pernah hilang. Kaulah sinar yang rela bersusah payah menerangiku di
dalam gelapnya dunia yang penuh dengan warna-warni kejamnya kehidupan ini. Semoga
kau diangkat dengan derajat yang setinggi-tingginya oleh Yang Maha Tinggi. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar