Senin, 25 November 2013

Hari Guru Nasional



Halo, Indonesia. Apa kabarmu? Lama tidak bersua bukan berarti aku lupa dengan kamu ya. Kudengar kau sedang diselimuti ribuan masalah dan ratusan masalah baru yang seakan menambah pusing manusia yang ada di dalam-mu. Bolehkah aku bertanya wahai Indonesia? Bagaimana dengan kesejahteraan? Bagaimana dengan pembangunan? Dan, bagaimana dengan kondisi para pendongkrakmu? Baiklah, lupakan sejenak mengenai kesejahteraan dan pembangunan. Aku mengawatirkan para pendongkrak yang kudengar akhir-akhir ini cukup menyedihkan. Tahukah kamu wahai Indonesia apa siapa itu para pendongkrakmu? Dia adalah manusia-manusia tulus, dan penyabar, yang diciptakan Si Maha Tulus untuk membangunmu dari sisi yang paling dalam.
          Sebuah peradaban, tidak akan maju jika tidak ada manusia yang rela mengorbankan pemikirannya demi manusia suci yang baru lahir yang ada di dalam sebuah bangsa itu. Bahkan seperti yang telah kita ketahui bersama, peradaban besar adalah sebuah maha karya yang dibangun oleh mereka sering bilang dengan guru. Wahai Indonesia, aku ingin bertanya sekali lagi denganmu, bagaimanakah keadaan guru yang ada di dalam-mu? Tidakkah kau berfikir kalau mereka mengorbankan hidupnya demi kepuasan keingintahuan anak-anak suci yang ada di dalam-mu? Tidakkah terlintas di benakmu, bagaimana keadaan guru-guru yang berada di ujung kendalimu? Guru-guru yang kata mereka berada di daerah perbatasan antara pengaruh-mu dan pengaruh tetanggamu?
          Aku yakin. Jika bukan karena kasihan denganmu, dan tak tega melihat anak-anak yang ada di dalam-mu dengan rasa ketidaktahuan mereka, mereka (guru-guru) sudah pasti pindah ke tetanggamu untuk mencari sesuap nasi, atau sejenis penghargaan agar mereka lebih termotivasi lagi untuk mengajar. Kudengar tetanggamu sudah mulai, hhmm atau memang sudah lama mereka memuliakan para pendongkrak mereka. Kudengar tetanggamu sudah memandang sebagai kebudayaan mereka, kalau seorang guru itu kedudukanya sama seperti profesi luar biasa yang ada di negaramu (Indonesia). Dan kalau kudengar juga nih, kalau kedudukan guru yang ada di sana sudah sderajat dengan pilot, ataupun dokter. Bahkan lebih dari itu, para guru juga sudah menikmati nikmatnya dunia walau tetap dalam kesederhanaan mereka sebagai guru.
          Bagaimana keadaanmu Indonesia? Sudahkah kau meniru seperti mereka para tetanggamu? Hah? Apa? Kamu bilang kamu tidak mau meniru orang lain? Terus mengapa kalau begitu kamu dengan seenaknya meniru musik dari para tetanggamu? Sudahlah jangan kita bahas itu. Peniruan itu penting. Tapi ingat wahai Indonesia, meniru itu dalam bentuk yang baik, seperti yang sudah aku katakan tadi. Apasalahnya kamu meniru tetanggamu yang sudah memuliakan para pendongkrak mereka? Tidak ada yang salahkan? Aku mendengar beberapa waktu yang lalu, kalau ada guru yang membangun sekolah di sebuah desa yang ada di bagian barat-mu. Cukup prihatin aku mendengar, dan melihatnya wahai Indonesia. Kemana saja kamu? Tahukah kamu, kalau guru itu rela datang dari jantungmu hanya untuk mendidik anak-anak suci yang ada di bagian barat-mu itu? Aku lupa siapa namanya, tapi jika aku bertemu dengannya, pasti sudah ku kenalkan kau kepadanya. Suapaya kamu bisa saling bertukar pikiran terhadap apa yang dia rasakan.
          Mendirikan sebuah gubuk bekas kandang sapi, dan kemudian ia sulap menjadi ruangan untuk mengajar anak-anak dari suku pedalaman. Tak ada patokan harga tertentu bagi para murid yang ingin belajar di sekolah itu. Yang ada hanyalah sebuah kotak amal yang mungkin bagi mayoritas anak-anak suku pedalaman itu tidak mengetahui uang “Imam Bonjol”, “Pattimura”, apalagi uang “Soekarno-Hatta” yang bersinar itu, yang akhir-akhir ini sering menjadi pelacur atau bahan rebutan bagi para mualim yang mengendalikan dirimu. Tak perlu upah banyak, mengajar sahaja, si guru yang tak dikenal itupun sudah merasakan nikmatnya hidup di dunia. Dia tak peduli betapa susahnya ia hidup, ia tak peduli betapa sakitnya ia menahan genggaman dari lambungnya yang sepertinya sangat sekali merindukan nasi.
          Hai Indonesia. Ingatlah. Mengapa aku mengandaikan seorang guru sebagai pendongkrakmu? Seperti yang telah kukatakan tadi, guru itu adalah seorang pembuat maha karya dari sebuah kemajuanmu, atau yang lebih sering mereka katakan kemajuan sebuah bangsa. Sebuah pembangunan harus dimulai dari hal yang paling bawah, yang paling dasar. Tidak dengan membangun bangunan megah, atau mungkin membangun bangunan indah yang mereka para tetanggamu seakan mengagumimu di tengah ejekan mereka terhadapmu, karena manusia-mansuiamu itu tidak berkualitas. Ayolah Indonesia. Aku mohon kepadamu, hormatilah mereka para pendongkrakmu. Sejahterakanlah mereka. Buatlah sistem pembelajaran yang sesuai dengan karakter anak-anak yang ada di dalam-mu.

*selamat hari guru. Tidak ada guru, bangsa ini akan menjadi bangsa pecundang yang rela diombang-ambing dengan bangsa lain. Terimakasih guruku. Cintaku, takkan pernah hilang. Kaulah sinar yang rela bersusah payah menerangiku di dalam gelapnya dunia yang penuh dengan warna-warni kejamnya kehidupan ini. Semoga kau diangkat dengan derajat yang setinggi-tingginya oleh Yang Maha Tinggi. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar