Halo.. lama kiranya saya tidak pernah menulis lagi di dalam blog saya. Hampir setahun mungkin lebih saya tak banyak berbicara panjang dan lebar dalam postingan blog yang saya buat kalau tidak salah di tahun 2013 ini. Baiklah kalau begitu. Izinkan saya kali ini untuk menulis atau sedikit mendeskripsikan beberapa hasil jepretan saya yang saya postingkan di Instagram dalam beberapa waktu belakangan. Bagi saya, memotret telah menjadi hobi tersendiri yang setidaknya membuat saya senang akan hasil-hasil jepretan saya pribadi. Tidak bermaksud untuk menyombongkan diri, walau saya tahu masih banyak karya-karya fotografer lainnya yang masih jauh lebih bagus dari hasil jepretan saya. Tetapi, jika bukan saya yang menghargai karya saya sendiri siapa lagi? Baiklah, semoga kalian juga senang melihat beberapa hasil jepretan saya yang saya akan coba menjelaskan berbagaimacam hal dalam proses pemotretan foto-foto tersebut.
![]() | ||||
| Merindukan Hujan |
Saya pikir inilah foto yang tepat untuk menggambarkan
keadaan hati saya di tengah musim kemarau seperti sekarang. Walaupun saya
sebenarnya sedikit bosan dengan hujan yang karena musim penghujan baru saja
berlalu, tetapi bayangnya seakan tidak bisa lepas dari ingatan saya selama
kemarau berlangsung. Ya, saya sangat merindukan hujan. Merindukan sejuknya,
merindukan dinginnya, hingga merindukan berteduh di sebuah tempat dimana langit
kelabu menghiasi bumi seakan menjadi sebuah selimut raksasa yang melindungi
seluruh manusia dari terpaan matahari yang kian memanas.
Foto ini diambil ketika saya dalam perjalanan menuju bandara
Soekarno Hatta. Saat itu saya ingin berpergi ke kota tempat saya dilahirkan,
Banda Aceh. Awalnya, saya ingin memotret sungai yang ada di gambar tersebut
–yang saya tidak tahu sungai apakah itu– yang sangat menarik perhatian saya
untuk mengeluarkan kamera dan menjepretnya. Sebenarnya saya lupa mengatur fokus
dari gambar tersebut, dan “jepreet!!” saya menekan tuas dan jadilah gambar ini.
Ketika saya melihatnya awalnya saya sedikit kecewa karena tidak berhasil
mendapatkan apa yang saya mau. Tetapi saya tidak terlalu menghiraukan,
untunglah tidak saya hapus. Ketika di pesawat yang menghabiskan waktu 2.5 jam
perjalanan dari Jakarta ke Aceh itu, saya melihat-lihat beberapa foto yang
sempat saya jepret selama perjalanan dari rumah ke Soekarno Hatta. Setelah
melihat-lihat foto ini dengan teliti, akhirnya saya mulai jatuh cinta dengan
apa yang saya jepret. Namun saya tidak memutuskan untuk mempostingkan foto
tersebut kedalam akun instagram saya. Saya memilih menunggu waktu yang tepat
untuk mempostingkan foto tersebut.
Dan setelah hampir satu setengah tahun kemudian, ketika
dalam ketidakjelasan keadaan yang saya alami di sebuah hari yang panas di
Jakarta saya membuka file perjalanan saya ke Aceh tempo hari pada awal tahun
2014 tersebut. Puas saya melihat-lihat keindahan cipataan Allah di ujung pulau
Sumatra, mata saya tiba-tiba tertuju pada gambar tadi. Betapa inginnya saya
dengan sesegera mungkin untuk mempostingkan foto tersebut kedalam akun
instagram saya. Seperti yang di awal telah saya sampaikan tadi bahwasannya saya
sangat merindukan hujan turun di kediaman saya, maka timbulah kata-kata
Merindukan Hujan untuk mendiskripsikan hasil jepretan yang tidak disengaja
tersebut. Ya saya pikir kedua kata tersebut sangat cocok untuk menunjukkan
perasaan saya dan apa yang tergambarkan dalam foto tersebut dikala musim
kemarau ini. Ya inilah gambaran saya mengenai foto ini, semoga kalian – siapapun yang sudi membaca dan melihat
karyaku ini – merasakan hal yang sama dengan saya, dan setidaknya dapat
menggambarkan apa yang tergambarkan di dalam foto ini.
![]() |
| Sendiri |
Inilah salah satu foto yang paling saya suka. Mengapa? Saya
akan membeberkan beberapa fakta mengenai foto ini agar kalian tahu mengapa saya
sangat menyukai foto ini. Pertama, di dalam foto ini saya berhasil menundukkan
waktu dan momen. Ya, dengan sekali jepret saya berhasil mendapatkan foto
seorang wanita –saya tidak mengenalnya
sama sekali – yang sednag menyebrang di jemabatan penyebrangan Margonda, Depok.
Kedua, foto ini diambil dari jarak yang jauh. Saya dapat mengatakan bahwa saya
dan perempuan ini terpisah sekitar 200 meter ketika saya mengambir gambarnya.
Keadaan saat itu posisi saya sedang berada di bawah ketika foto ini di jepret.
Entahlah kali ini saya benar-benar tidak bisa mendeskripsikan gambar tersebut,
saya benar-benar kehabisan kata bagaimana proses saya menjepret foto ini.
Semoga kalian memahami maksud saya.
Awalnya saya ingin memberi caption “Wanita Pemberani” dalam
foto saya kali ini di dalam akun instagram saya, karena pandangan wanita ini
sangat tegas melihat lensa kamera teman saya dari kejauhan. Saat itu saya
meminjam kamera milik teman saya untuk menghunting beberapa foto disekitar
Depok Townsquare. Namun, entah mengapa di dalam benak saya, saya lebih suka
memberi caption “Sendiri” dalam foto ini. Alasanya saya melihat wanita di dalam
foto ini memiliki karakter yang kuat dan tangguh sehingga dia dapat menjalani
hidup sendiri tanpa adanya pengaruh yang dapat mempengaruhi wanita itu dalam
perjalanan hidupnya. Ya, itulah alasan saya menggambarkan foto ini. Kalian
boleh saja berpendapat lain, tetapi inilah pendapat saya dan saya suka.
Sekian postingan blog saya kali ini. Niatan saya hanya ingin
mendeskripsikan dua foto hasil jepretan saya sendiri yang saya suka. Apapun
pendapat kalian mengenai foto-foto di atas itu adalah hak kalian untuk
menilainya dari sudut pandang manapun. Disini saya hanya ingin menjelaskan
sudut pandang saya mengenai foto-foto tadi. Tak masalah bagi saya, karena
menurut saya sebuah karya seni pastilah semua orang memiliki beberapa pandangan
yang tidak bisa dipaksakan. Seni itu untuk dinikmati, diresapi, dikhayati, dan
dibayangkan. Kalau perlu di khayalkan. Semoga kalian suka. Terimakasih telah
sudi melihat-lihat blog saya terutama postingan saya mengenai foto-foto ini.

