Kadang aku lebih memilih malam sebagai tempat peraduan.
Heningnya membuatku tak dapat berpaling dari kerasnya kehidupan.
Ketika siang bagaikan api yang membara.
Dalam malam aku dapat tenang dan terjaga.
Malamku penuh tanya.
Entah mengapa kau seperti tak berdaya.
Dan entah mengapa aku seperti tak terduga.
Aku hebat ketika matahari berpaling muka.
Ketika kulihat surga firdaus dalam tatapan matamu.
Disaat itulah aku merasakan kenyamanan dan ketenangan indah dalam hidupku.
Seperti matahari pagi yang siap menyinari hari.
Engkau ada karena doa dan teriakan hatiku yang sepi.
Engkaulah jawaban surga, Sang Maha Pengatur kehidupan.
Engkaulah malam yang memberikanku ketenangan dan harapan.
Bagaikan senyuman rembulan ketika matahari di balik bumi.
Seperti itulah perasaanku, tersenyum indah, senang, tenang, dan siap menatap esok hari.
Anganku tak terbataskan oleh waktu, atau mungkin materi.
Kadang dia (anganku) datang dengan sendiri.
Pergi tanpa permisi.
Tetapi.
Engkaulah yang selalu menyalakan api anganku dalam menyertakan doa untukku, untuk kita, di kemudian hari.
Mungkin aku bukan manusia yang sempurna.
Aku berusaha untuk menjadi sempurna, walau aku harus memindahkan Menara Eifel dari titik kordinatnya.
Wahai pujangga hati.
Kumohon jangan pergi.
Aku tak dapat menjadi berarti.
Jika engkau pergi dan meninggalkanku sendiri.
Kadang, Tuhan punya jalanNya.
Dan, ku percaya kaulah jalanku untuk menuju masa depan.
Yang dimana hanya ada kebahagiaan, cerita, derita, masa sulit, yang terpenting kita dan buah yang kita hasilkan dari cinta murni kita.
Selamat tidur wahai wanita penyejuk jiwa.
Malam memang telah menjadi siang.
Kuharap engkau dapat menikmatinya dengan naungan Tuhan dan berkahnya yang banyak.
Untuk wanita penyejuk jiwa.