Minggu, 23 Juni 2013

Our Journey to Ranking 1



Hallo. Sekarang gua lagi mau menceritakan sedikit pengalaman gua dan teman-teman gua yang kemarin tanggal 11 Juni berhasil menjadi pemenang di acara Ranking 1 *pinterr gak tuhh* hehehe. Jujur aja ni ya, gua baru pertama kali mengikuti acara ini sejak jantung gua pertama kali bekerja pada tanggal 14 Agustus 1994 yang lalu. *hehehe promosi ulang tahun dikit*
                Hari itu gua gak tahu gimana menjalani hari-hari gua yang penuh dengan kesepian. Gua ingat waktu itu tanggal 7 Juni. Ya, pengumuman kelulusan sekolah sudah berada di genggaman gua, dan tugas gua waktu itu hanya tinggal menikmati hidup dan berusaha untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Asal kalian tahu. Gua dan teman-teman terkutuk gua gak bakal bisa tampil di acara ranking 1 tanpa sosok seorang anak manusia ini. Ya, dia adalah Restia! Doi ngebet banget mau bekerja jadi crewnya Trans TV. Oke deh, daripada lama-lama, kita tampilkan ceritanya aja ya sekarang. Boleh gak? Kalo gak boleh, yaudah urusan lo!
                Jadi gini. Saking ngebetnya si Restia untuk ingin menjadi crew Trans TV, doi iseng-iseng buka webnya Trans TV. Entah setan atau malaikat apa yang memaksa dia untuk membuka web itu. Yang pasti, saat ia menuliskan alamat www.transtv.com itu adalah awal dari proses kami untuk tampil dan menjadi juara di acara ranking 1 Trans TV. Waktu itu tahun 2012. Gua, dan teman-teman gua termasuk sang juru kunci ranking satunya sekolah gua, empuh Restia masih kelas 11. Saat doi masuk ke webnya trans tv, untuk melampiaskan ke-kepoanya mengenai TransCrop, ia melihat Ranking 1 yang menjadi pembuka tab laptopnya. Nah, dari situ keisengannya muncul. Entah karena apa, menurut gua mungkin Restia pengen banget ikut salah satu acara di Trans TV yang konon katannya crewnya itu ganteng-ganteng buuaangeeet!! Oh my godhh!! *penulis melted* dan dari itulah salah satu alasan Restia untuk ngebet banget menjadi crewnya trans tv. Cukup masuk akal juga sih.
                Okeh kita balik ke topik hidayat. Eh maksud gua ke topik semula, *maaf kalo agak jayus* :P Nah dari keisengannyalah Restia mendaftarkan sekolah kami yang penuh berkat itu. Setelah ia memasukkan semua data mulai dari, nama anak-anak yang ingin mengukuti ranking 1, nama sekolah, nama guru, ukuran sepatu, ukuran celana dalam, ukuran baju dalam, bahkan ukuran kaus kutangnya Mang Gaper officeboynya sekolah pun ia masukkan selesai, lalu ia kirim melalui email. Dan yak, terkirim dengan selamat. Gua yakin, pasti pada saat ia mendaftarkan ranking 1 itu pasti Restia excited banget. Konon ada cerita saking excitednya doi, dia sampai lupa mematikan keran bak  kamar mandinya sampe itu kamar mandi sudah tak jauh beda sama danau yang ada di sekolah gua. Hahaha. *gak lucu pun, ketawa. Dasar penulis pe’ak*
                Keesokan harinya di sekolah Restia menceritakan tentang apa yang kemarin ia lakukan.
“Eh eh, tau gak? Gue kan daftar sekolah kita ke acara ranking 1 trans tipi” dengan senangnya Restia menyampaikan kabar gembira itu ke teman-temannya.
“Serius Res? Kapan kita kesananya? Hahaha” kata si gembul Sarah
“Gua juga belum tau Sar, nanti dihubungin lagi kayanya seminggu lagi Sar”
“Wah gua harus ikut! Numpang masuk tipi hahaha!!” si telmi Bella nyambar dengan muka polosnya yang sudah sepolos ban bis sekolah gua karena sejak 1898 sudah tidak pernah diganti. Mungkin lebih kasar muka gua daripada ban bis renta itu.

                Seminggu, sebulan, dua bulan, tiga bulan, tiga kali lebaran, tiga kali miscall dari malaikat pencabut nyawa, kabar dari transcrop tak kunjung datang. Dan kabar tentang adanya ranking 1 di sekolah itupun lambat laun sirna seperti rambut gua yang makin lama makin botak karena faktor gen ini. *janganketawa!!*
                Gua bisa ngebayangin muka melas Restia yang menunggu kabar dari transcrop seperti seekor anak burung yang menunggu makanan dari induknya yang ketembak oleh militer Israel. Kasihan juga kalau mengingatnya. Tapi itu hanyalah masalalu Restia yang kelam yang sepertinya tak pernah bisa ia lupakan.
                Singkat cerita nih, tanggal 6 Juni kemarin tahun 2013. Tepatnya tanggal 6 Juni jam 8 menit ke 35 dan detik ke 54 Restia menerima sebuah telepon. Awalnya ia malas banget angkat ntu telepong karena ia pikir telepon itu berasal dari salah satu lembaga pendidikan yang sukses membuat membuat telinga dan hapenya panas, hingga cairan hijau yang ada di dalam kupingnya ikut mateng dengan aroma yang sangat lezat bagai sambal ijo di warung Padang Jaso Mande. Namun yang namanya rejeki ya gak kemana. Dan dengan keterpaksaan ia angkat telepon itu dengan nada malas.
“Hallo, assalamualaikum”
“Waalaikumsallam, benar ini Restia dari SMA Taruna Terpadu (nama sekolah gua :D)?”
“Iya betul mbak. Ini dengan siapa ya?” perasaan Restia udah mulai gak enak, takut cairan ijo yang ada di kupingnya mateng lagi.
“Ini kami dari crew ranking 1 trans tipi”
Mendengar kata-kata itu Restia langsung loncat dengan semangat yang dibumbui dengan sedikit gemetaran. Kata bantal dan gulingnya yang gua wawancari sih waktu tau itu dari ranking 1, ia sempat melayang seperti gak ada gravitasi bumi yang menariknya pada saat itu. Entahlah, itu cuma bantal dan guling yang penuh dengan pulau-pulau yang Restia buat semalaman penuh. Oke kita lanjut ke percakapan.
“Oh ya, ada apa mbak” Restia nyengir kuda.
“Kami mau mengundang anak-anak SMA Taruna Terpadu untuk main bersama kami. Bisa?”
“Bi.. bisa dong mbak pasti hehehe. Tapi untuk tanggal berapa ya?”
“Hhhmm kalo untuk SMA Taruna Terpadu itu dapat jadwal hari selasa tanggal 11 Juni 2013. Gimana? Bisa gak?”
                Dan dengan kebingungan apakah anak-anak di sekolah gua mau ikut apa enggak, sama tidak tahu harus ngejawab apa, akhirnya Restia bilang:
“Hhhmm mbak, boleh saya tanya guru saya dulu gak? Nanti kalau sudah fix saya konfirmasikan ke nomor ini lagi ya?”
“Oke makasih ya atas partisisapinya. Ditunggu jawabanya segera.”
“O..oke mbak”
                Nah, dari situlah Restia langsung pontang-panting pergi ke sekolah untuk mengabarkan berita itu kepada guru-guru yang ada di sekolah.
                Namanya bu Erna. Banyak sekali murid-murid yang suka jika diajarin dengan guru itu. Mungkin karena dia adalah seorang fresh graduated dari IPB, jadi jiwa mudanya masih
                Seperti yang udah gua ceritain tadi, waktu itu tanggal 7 Juni gua gak tahu harus berbuat apa. Dan di sore hari tiba-tiba hape gua bergetar. Ada sms dari bu Erna, kira-kira smsnya begini:
“Asw. Hai2 calon mahasiswa :D! TarTer (Taruna Terpadu) diundang untuk berpartisipasi di acara ranking 1 tanggal 11 Juni, di TMII. Siapa yang mau ikut, tolong konfirmasikan ke saya.”
                Dan gua membalas dengan mengatakan kalau gua ikut. Tapi gua langsung ke taman mini, karena pada saat itu gua sudah gak tinggal di Bogor lagi, tapi sudah tinggal di Jakarta di rumah paman gua, yang kebetulan jarak dari rumah tidak begitu jauh ke taman mini.
                Tak hanya bu Erna yang berjuang untuk membujuk anak-anak sekolah gua untuk bisa mengikuti acara di ranking 1. Restia dan Abdul pun setengah hidup membujuk anak-anak yang kelas tiga yang ada di sekolah gua untuk mau mengikuti ranking 1. Maklum saja, mungkin karena pengumuman kelulusan sudah di kasih, jadi banyak anak-anak yang sudah pergi ke luar kota untuk melanjutkan pendidikan mereka ke perguruan tinggi negeri.
                Gua masih ingat ekspresi muka Restia yang memaksa Aaron untuk ikut ke ranking 1. Ya, dengan muka yang tak jauh beda dengan orang yang sering duduk di kaki lima, Restia dengan sekuat tenaga membujuk si pesong Aaron untuk mengikuti acara itu. Namun manusia penyakitan itu tidak mau untuk ikut, dengan alasan kalau dia punya perasaan yang gak enak. Dari kata Aaron itu Restia semakin lemas dan kehilangan semangatnya untuk membujuk teman-teman gua untuk ikut ke ranking 1. Gua rasa usaha Restia, bu Erna, dan Abdul untuk membujuk teman-teman gua seperti pengembala yang mengembala domba-domba liar yang sangat susah untuk di masukkan ke kandang.
                Karena kesulitan memaksa anak-anak kelas 12 untuk ikut ke acara ranking 1, entah malaikat apa yang membisikkan pak Aman untuk mengajak anak kelas 11 yang saat sedang menjalani proses ukk atau ujian kenaikan kelas. Demi kaus kutangnya Mang Gaper, gua sempat gak percaya kalau pak Aman yang menyuruh anak-anak kelas 11 untuk ikut ke acara itu. Ya, karena semua orang yang ada di sekolah itu tau kalau pak Aman adalah guru yang kadang bisa dibilang killer, Hitller, dan kadang bisa juga berubah menjadi manusia yang baik. Semoga Allah memberkati beliau. J Tapi manuver itu juga tidak mampu mengumpulkan 50 manusia untuk ikut serta ke acara itu. Namun singkat cerita, pada saat H-2 sebelum acara dimulai, akhirnya perjuangan Restia, bu Erna, dan Abdul tuntas. Dan sukses membuat Restia kembali tersenyum kuda karena tak sabar untuk melihat kru-kru trans tipi yang ganteng-ganteng itu. *ohh my godhh ganteng buangeeettt!!!* #EfekLiatForumGayOnline
                Sehari sebelum acara ranking 1 di adakan, teman-teman gua pada nginap di sekolah. Hal ini menurut gua wajar, karena crew transcrop mengatakan kalau jam setengah 6 rombongan sudah harus sampai di taman mini. Dari sinilah semua strategi dirancang oleh bu Erna. Walau gua gak ikut nginap di sekolah, tapi gua bakal nyeritain ke lu pada  ceritanya secara kronologi.
                Sore itu baru hanya sebagian murid yang datang untuk menginap di sekolah gua yang penuh dengan rahmat itu. Namun saat matahari mulai terpeleset, anak-anak mulai berdatangan satu-persatu. Termasuk sang guru kesayangan para murid bu Erna. Semua berkumpul untuk membuat perlengkapan acara yang saat itu bertemakan ospek. Jadi perlengkapan anehpun dibawa sama teman-teman gua. Yang gua bayangin sih, keadaan di ruang guru pada saat itu gak jauh beda dengan pasar induk yang ada di Kramat Jati, dimana ada sayur-mayur dan buah-buahan. Rencananya pada pengin buat kalung atau aksesoris dari sayur dan buah-buahan itu. Pokoknya banyak pengalaman konyol yang mereka rasakan pada saat nginap. Sayang, gua gak nginap L. Tapi kalo gua nginap bakal lebih membuat kantong gua kosong menipis. Yasudahlah…
                Pada saat anak-anak sedang membuat aksesoris dari sayur-mayur dan buah-buahan, tiba –tiba bu Erna menyampaikan dua plan untuk menghadapi acara tersebut. Seperti seorang jenderal yang berbicara kepada semua pasukannya untuk menghadapi musuh, walau musuh itu mempunya persenjataan lengkap. Tembakan air. Bu Erna bilang kayak gini.
“Pokoknya kita kesana dengan dua misi! Kalau gak jadi juara, ya minimal kita jadi group terheboh!! Setuju??!!!” bu Erna dengan semangat berorasi.
“Setuju!!!” semua anak menjawab dengan semangat yang lagi ngebooming banget.
                Rencananya, mereka mau jalan jam 4 pagi dari Bogor. Takutnya telat atau bagaimana, sehingga mereka rela tuh nginap di sekolah. Sungguh pengalaman yang menyenangkan. J Setelah tidur dan bangun jam tiga pagi untuk shalat Tahajud sekalian minta sama Allah untuk diberi hari yang indah besok, anak-anak pada bersiap untuk pergi ke Jakarta, tepatnya ke Taman Mini Indonesia Indah untuk bertempur. Jam empat pagi mereka sudah stay di depan sekolah untuk menunggu bis tua itu. Sialnya, bis terkutuk itu tidak kunjung datang sampai azan subuh mengalun dengan indahnya memecah kesunyian di waktu pagi.
“Arrgghh!! Kemana sih bis nya??? Sebbell deehh!! Gua takut telat nih! Kan gak lucu.” Restia mulai gelagapan.
“Sabar Res. Kita shalat subuh dulu yuk!” bu Erna mencoba menenangkan Restia yang sudah mulai panik.
                Setelah mereka teman-teman gua shalat subuh. Mereka pun kembali menuju parkiran sekolah untuk menunggu bus itu. Dan lagi-lagi bis yang sepenuhnya terkutuk itu tak kunjung datang. Mengetahui situasi ini, kesabaran bu Erna akhirnya habis. Ia memutuskan untuk menelpon supir bus itu yang tadinya dia pikir masih bermimpi di ranjangnya.
“Hallo. Assalamualaikum. Pak sudah dimana?!! Kami sudah lama nunggu nih. Kan kemarin jam empat subuh kita sudah harus berangkat!” bu Erna berbicara dengan nada yang tinggi, sehingga membuat semua murid terdiam dan tak menduga kalau bu Erna bisa setegas itu.
“Ia bu. Saya sedang di jalan. Sabar dikit doong!” kata supir bis yang sebenarnya ingin mengatakan “kampret lu berisik amat!”.
“Ya gak bisa begitu dong pak! Kami sudah menyewa bis ini!! Pokoknya dalam 5 menit sudah sampai di sekolah!! Saya gak mau tau!” bentak bu Erna dengan tegangan tinggi bagai pembangkit listrik bertenaga nuklir tanpa memiliki coolant di dalamnya. Terlihat asap sedikit mengepul di kepalanya. Eh gak taunya itu adalah asap rokok Mang Uwo, sang penjaga sekolah.
                Dan tidak sampai 5 menit akhirnya bus tua itu datang. Dan melanjutkan perjalanan ke Bogor. Rupanya. Ketegangan gak sampai di situ. Mungkin karena si supri eh supir merasa bersalah karena telat, akhirnya doi memutuskan untuk meng-kick pedal gas dalam-dalam. Hampir sama dengan kecepatan mobil Subaru yang ada di Need for Speed Underkolongtempattidur. Memang sih, si supir sepertinya sudah sangat menguasai jalan tol Jagorawi itu. Bayangkan saja, jarak Bogor-Taman Mini hanya di tempuh dalam waktu sekitar 35 menit. Kalau gua sama paman gua dari Bogor ke Cijantung biasanya nyampe sekitar 55 menitan.
                Oke, dari tadi kita sudah ngomong tentang teman-teman gua. Dan sekarang gua mau menceritakan keadaan gua disaat malam menuju acara itu. Boleh ya.. pliss. *muka melas, mata berbinang airmata kaya tokoh film jepang yang ganteng* *jangan muntah!!*
Malam itu gua seperti biasa. Shalat magrib, dan membantu tante gua untuk menjaga warung kelontong miliknya. Ya, seperti malam biasanya aja. Bahkan gua sempat lupa tuh kalo besok ada rencana mau ikut ke acara ranking 1 di transtipi. Waktu pengen tidur, gua baru keingat. Oh ya, besokkan gua mau ke ranking 1. Oke deh gua tidur, batin gua. Paginya gua bangun. Dan shalat subuh. Tumben tuh pagi itu gua shalat subuh di mesjid. Walau jarak mesjid sama rumah bagaikan jarak mulut sama hidung, tapi kalo subuh gua jarang pergi ke mesjid. Lebih sering shalat di rumah. *jangan ditiru ya, lebih baik shalat di mesjid biar banyak pahala. Aseekk!!* #EfekNontonCeramahUje
                Gua siap-siap dan pamit sama paman dan tante gua. Paman gua anterin gua ke depan supaya bisang langsung naik angkot ke arah taman mini. Dari perempatan Pasar Rebo, gua naik angcot (bacanya angcot, pake huruf ce ya :P) 15 dan nyambung naik angcot 02. Pas gua nyampe ke taman mini, mungkin baru seperempat sekon, gua liat sebuah bis dari kejauhan.
“Wah pasti anak-anak nih” kata gua dalam hati.
                Gua di situ udah nyengir-nyengir kuda nil nunggu temen-temen gua yang gua rindukan. #EfekBacaNopel. Dan saat bis itu lewat di depan congor gua, gua sudah melemparkan senyum hangat, sehangat bokong gua kepada para penghuni bus. Dan ternyata eh ternyata, yang ada di dalam bus itu adalah anak sekolah dari SMA 1 Chabitoeng. Yang anaknya pada chabi chabi kaya babi gimanaa gitu. *don’t laughing and don’t angrying*
Kamfrree~et. Sumpah malu banget gua. Senyum-senyum sama orang yang gak kenal. Dikira gua orang gila yang berpenampilan kece kali. Sialan. Untung senyum gua hangat, sehangat bokong gua. Makan tuh bokong! Kata gua dalam hati. *hehehe sorry bahasanya agak nakal. Maklum sekiditlah*
“Kayanya masih lama. Ketoprak enak tuh! Kesana ah.” Cacing yang ada di perut gua melakukan referendum yang memutuskan gua untuk sarapan.
                5 menit….
                10 menit…
                15 menit…
                Sampe ke 45 menit..
“Kemana sih??!! Pada niat datang gak nih?” gua ngeluh sendiri gak jelas. Sampe tukang ketoprak bilang dengan polosnya.
“Udah diminum dek obatnya?”
                Sialan lu! Gua berkata dalam hati dan hanya tersenyum melihat si tukang ketoprak. Akhirnya gua sms bu Erna.
“Bu udh dmn? Sy udh nnggu lumutan nih dsni.”
“Bntr Ndi. 5 mnt lg kami sampe kok”
“Oh yaudah”
                Dan akhirnya setelah 45 menit menunggu bus itu. Akhir dari kejauhan gua melihat mobil bus Agar dari kejauhan. Warnanya merah dan ada tulisan putih di sebelah kanan dan kiri, yang menandakan nama bus itu, Agar. Sumpah demi celana dalam abang-abang tukang ketoprak, gua gak nyangka kalo itu bus busuk amat. Mungkin lebih bagus bis kopaja yang baru kali ya. Hahaha gua tertawa dalam hati.
                Akhirnya semua anak-anak turun, dan prepare semua untuk briefing dengan kakak-kakak trans tipi yang ganteng itu. *ohh my godhh* awalnya gua pengen duduk di barisan paling belakang, supaya muka gua yang kaya Grand Canyon dan rambut gua yang kaya hutan gundul Sumatra ini gak keliatan. Ternyata, barisan belakang sudah penuh sama anak-anak. Sialan masa duduk di depan sih. Gua membatin. Yaudah di depan. #pasrah #berdoa #bibirgemetar #celanadalammelorot
                Akhirnya setelah briefing sama kakak-kakak transcrop, acara pun di mulai. Disitulah gua melihat Ivan Gunawan dan Rubben di depan congor gua. Sumpah, Ivan itu gede banget. Pahanya aja udah hampir sama kaya tiang baliho yang ada di perempatan Cinongneng. Dan yang lebih membuat gua malu, gua dikerjain sama dua presenter pesakitan itu. Siapa lagi kalau bukan Ivan dan Rubben. Tapi untuk apa malu. Seluruh Indonesia gak ada yang kenal sama gua ini :P
                Dan mulailah pertanyaan pertama yang dibacakan oleh si papan reklame, Ivan.
“Apa singkatan dari MOS?”
“A. Masa Orientas Siswa. B. Masa Obok-obok Siswa” lanjut Rubben.
“Hah cuma gini doang gua mah bisa” batin gua meremehkan. Setelah menuliskan jawaban di papan tulis, akhirnya gua angkat. Dan benar!! Semua orang berteriang kegirangan. Termasuk rival kami SMA 1 Cibitung.
                Lalu iklan. Disaat iklan ini semua ada sebuah video yang sengaja diputar oleh crew transcrop. Video ini berisi tentang harimau putih Benggala. Gua sempat mikir, pasti pertanyaan selanjutnya tentang ini. Makanya gua perhatiin ntu video. Tapi sayang, hanya sedikit yang memperhatikan video itu. Setelah acara kembali, ternyata benar perkiraan gua tadi. Pertanyaan kedua adalah, kira-kira seperti ini.
*video diputar
*semua orang ngeliat ke video
*video selesai
*Ivan nanya
“Berasal darimanakah harimau Benggala?”
“A. Mesir, B. India” Rubben melanjutkan.
                Setelah gua menulis jawaban. Dan tibalah saat presenter itu mengatakan jawabanya. Dan ternyata jawaban gua dan semua teman-teman gua dari sekolah Taruna Terpadu benar semua. Yang gua kaget peserta di sebelah gua yang berasal dari SMA 1 Cibitung, yang terlihat pintar salah. Semoga Allah memberkati dia.
                Ada satu momen yang gua pikir ini terlalu berlebihan untuk seorang anak manusia. Pada saat pertanyaan ke tiga ini, sebenarnya adalah sebuah pertanyaan konyol yang ranking 1 berikan kepada peserta.
Etc adalah salah satu singkatan dari bahasa Inggris. Pertanyaanya adalah, apakah kepanjangan dari etc itu?” si Rubben dengan semangatnya membaca pertanyaan itu kepada kami.
“A. Etcetra, B. Es cetar membahana.” 
                Gua sempat bertanya dalam lubuk hati gua. ‘whaat?? Are the kidding me? Hahaha.’ Sungguh sebuah pertanyaan konyol yang gua pikir semua peserta bisa menjawabnya. Lagi-lagi setelah gua dan teman-teman gua menjawab pertanyaan itu, kami mengangkat jawaban kami. ‘Ini mah benar semua. Cuma manusia purba yang gak bisa menjawab pertanyaan konyol ini. Hahaha’ remehan gua berhasil mengalahkan kesunyian yang ada di hati gua.
“Dan jawabanya! Adalah, A. Etcetra. Ayo siapa yang salah??” kata si tiang baliho Ivan.
                ‘Sungguh keterlaluan kalau ada yang salah ini mah’ hati gua kembali komat-kamit. Dan tiba-tiba muncullah dua sosok manusia purba yang tadi gua bilang. Yang paling belakang udah keburu kabur, mungkin takut diburu sama presenter Ivan dan Rubben. Dan yang tersisa adalah manusia purba yang berada di barisan depan. Sumpah itu momen paling konyol yang pernah gua alami.
“Siapa yang salah? Ada?” kata Rubben.
“Hah? Ini salah? Serius kamu?” si Rubben tak percaya.
“Semua orang punya jawabannya Ben!” si Ivan dengan belagak sok bijak menjawab
                Sudahlah, untuk apa kita membahas itu. Yang lalu biarkanlah berlalu, yang purba biarkanlah dia tetap purba selamanya. Kecuali si purba mau merubah dirinya sendiri. Dan tibalah sebuah pertanyaan dimana gua terhempas dari acara itu. Sebuah pertanyaan praktikum tentang hokum Newton 1 berhasil menendang sekitar 60% teman-teman dari SMA gua. Termasuk gua sendiri. Saat itu pertanyaannya, si Sogi nyentil sebuah koin yang di dasarnya dikasih sebuah kartu yang ditaro di atas sebuah gelas. Waktu dia nyentil kartunya, si koin itu jatuh kedalam gelas tadi. Nah pertanyaanya,
“Jika koin ditambah menjadi dua, apakah koin yang ada di bawah dua-duanya atau hanya salah satu saja?”
                ‘Ah ini baru pertanyaan. Tapi gua bingung.’ Gua berusaha untuk berfikir logis.
“A. Jatuh salah satu, B. Jatuh keduanya” kata si Dogi. Eh maksud gua Sogi.
                Waktu tu feeling gua udah gak enak. Yaudah gua jawab A. Dan ternyata jawaban gua salah. Wah yaudahlah mungkin gua gak dapat rejekinya. Pikir gua dalam hati. Gua memang jarang menonton acara ini. Maklum aja ye, gua dulu gak punya tipi untuk nonton, karena ngekost. Hahaha #norak #tepokjidad
                Waktu pertanyaan terakhir yaitu pertanyaan cepat tanggap. Dan dialunkanlah piano dengan nada nina bobo. Aji. Anak-anak sering memanggilnya Kelong. Anak ini memang terkenal pinter sih, di sekolah. Ini anak betah banget ngegantung di peringkat 5 keatas. Mungkin hari itu adalah harinya si Aji.  Dengan cepat dia tulis ‘nina bobo’ di papan tulisnya. Akhirnya seperti yang tadi dikatakan kalau siapa yang berhasil mengangkat duluan dan benar, dialah yang akan menjadi pemenangnya, yang berhak untuk memilih 10 orang teman untuk membantu mendapatkan hadiah.
                Jujur aja nih, gua gak tahu kalau bakalan dipilih sama si Kelong. Gua kira sehabis gua dipilih akan ada seperti yang tadi tanya lalu jawab dengan papan. Eh, gak taunya itu adalah finalnya untuk mendapatkan duit. Untunglah gua barus sadar kalau acara itu sudah selesai. Jika sebelum selesai gua sadar, mungkin bisa-bisa kolor gua melorot lagi kali gara-gara gugup. *gugup sama kolor melorot? Apa hubungannya?* #stress
                Dan dipilihlah 10 orang yang menurut si Kelong bisa dipercaya. Setelah berkumpul dan berfoto untuk diberi semangat sama teman-teman gua yang memberi semangat dari belakang, kami akhirnya berbaris di stage. Gua berdiri di baris ke dua dari 10 baris. Waktu itu gua tepat di belakang si Kelong yang juga terlihat agak gugup. Sumpah, gua gugup habis. Hal yang paling gua takutin adalah tidak bisa menjawab saat pertanyaan itu dilempar ke gua. Akhirnya gua menyuruh Haidar adik kelas gua yang katanya ganteenng buaanggeeeddhhh untuk maju dan gua mundur. Rupanya tindakan itu benar.
                Waktu pertanyaan pertama dilemparkan ke Aji, dengan pertanyaan bahasa Indonesia yang gua lupa apa yang ditanya oleh Rubben, akhirnya Aji bisa ngejawab pertanyaannya dengan sempurna. Dan pertanyaan kedua. Si Haidar, di tanya dengan soal bahasa Inggris. Jujur gua aja yang katanya agak jago bahasa Inggris bingung harus ngejawab apa. Dan si Haidar pun akhirnya gak bisa jawab tuh pertanyaan. Dan tibalah saat gua untuk di tanya. Nah, kalau ini gua masih ingat apa yang ditanya. Waktu itu pertanyaanya nama lembaga yang membuat undang-undang adalah? Jujur aja, setengah pertanyaan dibacakan ke gua, otak gua blank. Tapi karena gua mendengar kata terakhir ada undang-undangnya untungnya gua langsung konek dengan kecepatan 50GB/s. Dan seketika gua jawab ‘DPR’. Akhirnya gua benar. Hahaha senang karena teman-teman gua menyorakin gua. Untung gua pindah, kalau gak, gak tahu dah apa jadinya.
                Singkat cerita, sekolah kami berhasil mengumpulkan uang sekitar 11 juta. Ya lumayanlah menurut gua. Saat itu gua Cuma dapat 200 rebu aja, tapi semua gua ikhlasin hitung-hitung amal. Itulah salah satu cerita yang pernah gua alami oleh gua dan teman-teman gua. Okeh, gua nitip pesan disini. Pesannya adalah, jika kita ingin mengerjakan sesuatu, lakukanlah dengan sesenang mungkin. Tapi ingat jangan terlalu kesenangan. Dan fokuslah terhadap prosesnya, jangan terlalu berharap dengan hasilnya. Proses okeh, hasil the best. Hehehe sok bijak banget gua.
                Dan akhirnya kedua strategi yang kemarin bu Erna bilang, tercapai. Selain menang, kami juga menjadi penonton yang paling heboh. Yang lebih insanenya lagi waktu sepanduk yang katanya dibuat sama pak Aman malam-malam dibaca dengan si Rubben dan Ivan. Mungkin menurut orang gak penting amat sih? Tapi menurut gua, teman-teman, dan guru gua itu adalah suatu kebanggaan yang gua dan teman-teman gua terakhir persembahkan kepada sekolah disaat kami ingin pamit untuk meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi. Semoga semua angkatan 7th Generation menjadi ranking 1 di setiap bidangnya masing-masing. Amin.

Ini foto-foto gua dan teman-teman gua saat di ranking 1.. hehehe
kalau yang ini teman-teman gua yang ikut ranking 1.


ini dia si Aji dan bu Erna guys.
                                            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar