Minggu, 23 Juni 2013

Kota dengan Ribuan Masalah



Asap kendaraan dan debu bercampur hingga mencekik bulu hidung yang tak pernah bosan melahap udara kotor ini. Panas dari sang surya mendarat seperti ditusuk-tusuk di kulit yang hitam ini. Suara dan kelakson kendaraan bermotor tidak pernah berhenti berteriak selama 24 jam penuh. Jalanan seakan berteriak tak mampu menahan beban kendaraan yang membludak. Sedangkan gedung-gedung pencakar langit masih dengan angkuhnya berdiri menantang ribuan gubuk kumuh yang hanya dengan tiupan angin sepoi-sepoi runtuh berantakan. Itulah gambaran klasik ibukota dari sebuah Negara yang bernama Indonesia.
Jakarta. Disinilah tempat jutaan warga Indonesia berani mengadu nasib di ibukota tercinta ini. 486 tahun sudah, kota ini berdiri. Banyak cerita yang sudah ditorehkan kota yang terletak di ujung utara Pulau Jawa ini. Sejak zaman VoC dulu, Jakarta memang sudah menjadi pusat pemerintahan dan pusat perdangan tersibuk pada saat itu. Letaknya yang strategis, membuatnya menjadi salah satu kota dengan perkembangan tercepat di Indonesia. Masih ingatkah kalian wajah Jakarta pada zaman kolonial dulu? Ya, saat itu sistem drainasenya bagus, transportasi masal bagus, dan kebersihanpun terjaga dengan rapi. Tapi sebagus-bagusnya Jakarta pada zaman kolonial dulu, kota ini mempunyai penyakit yang bisa dibilang sangat klasik. Banjir. Ya, banjir. Sejak zaman dulu kota ini memang sudah akrab dengan yang namanya banjir. Pemerintahan Hindia Belanda dulu sempat sedikit kebingungan dalam mengatasi banjir ini. Sehingga dibuatlah pencegah banjir yang kerjanya hampir sama seperti yang ada di kota Amsterdam, Belanda.
Lain dulu, lain sekarang. Kota Jakarta zaman sekarang adalah sebuah kota megapolitan yang dimana berbagai karakter manusia tinggal di kota ini. Walau masalah banjir masih menjadi salah satu masalah klasik kota ini, muncul lagi masalah-masalah baru yang sepertinya banyak terjadi di kota-kota besar yang ada di dunia. Macet, pencopetan, pembunuhan, polusi kendaraan dan lainya seperti sudah menjadi makanan sehari-hari masyarakat kota Jakarta. Semoga pemimpin kota ini bisa mengatasi masalah-masalah tersebut.
Jakarta memang unik. Sebagai ibukota Negara, perputaran uang yang ada di Indonesia ini 60%nya beredar di Jakarta. Sehingga tidak heran kalau Jakarta menjadi tujuan utama harus urbanisasi dari desa ke kota yang ingin mengadukan nasibnya di kota ini. Hal ini justru memperparah background kota Jakarta pada umumnya. Karena saking banyaknya urbanisasi yang mengadu nasib di Jakarta, sehingga membuat para orang-orang itu mendirikan gubuk-gubuk yang secara umum sangat merusak pemandangan kota ini.
Dari permasalahan itulah, menjadikan Jakarta menjadi salah satu dari sepuluh kota yang paling di benci di dunia. Jakarta di urutan kedelapan. Sungguh memalukan bagi Indonesia. Dimana ibukota adalah pusat suatu Negara, dan mencerminkan keadaan Negara tesebut. Namun di balik itu semua, Jakarta menyimpan sejuta kisah yang mungkin patut kita simak. Yang pertama adalah monas. Monumen nasional ini menjadi salah satu simbol khas Jakarta. Selain monas, masih banyak lagi bangunan-bangunan lain yang menjadi simbol kota Jakarta. Namun paling menarik perhatian saya adalah Bundaran Hotel Indonesia. Bundaran yang dibangun di tengah kota Jakarta ini, jika dilihat dari sisi atas menyerupai mata dewa Horus. Salah satu dewa bangsa Mesir kuno dulu. Sekarang lambang ini dipakai oleh lembaga pemujaan setan yang terkenal yakni Freemasonry. Sebenarnya tidak terlalu penting juga untuk membahas ini., tapi saya ingin hanya sekedar member tahu kepada khalayak kalau Jakarta sebagai ibukota Negara, mungkin merupakan pusat kebudayaan yang mempunyai keberagaman yang besar.
Selamat ulang tahun kota Jakarta yang ke 486. Semoga menjadi kota yang berkembang lebih baik lagi, serta dapat menyelesaikan beribu masalah klasik yang selalu menyelimuti kota ini. Tentuya ini semua harus di dukung oleh semua lapisan masyarakat yang ada di kota ini. Semoga Allah selalu memberkati masyarakat yang tinggal di ibukota Negara ini. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar