Asap kendaraan dan debu bercampur hingga mencekik bulu hidung yang tak
pernah bosan melahap udara kotor ini. Panas dari sang surya mendarat seperti
ditusuk-tusuk di kulit yang hitam ini. Suara dan kelakson kendaraan bermotor tidak
pernah berhenti berteriak selama 24 jam penuh. Jalanan seakan berteriak tak
mampu menahan beban kendaraan yang membludak. Sedangkan gedung-gedung pencakar
langit masih dengan angkuhnya berdiri menantang ribuan gubuk kumuh yang hanya
dengan tiupan angin sepoi-sepoi runtuh berantakan. Itulah gambaran klasik
ibukota dari sebuah Negara yang bernama Indonesia.
Jakarta. Disinilah tempat jutaan warga Indonesia berani mengadu nasib di
ibukota tercinta ini. 486 tahun sudah, kota ini berdiri. Banyak cerita yang
sudah ditorehkan kota yang terletak di ujung utara Pulau Jawa ini. Sejak zaman
VoC dulu, Jakarta memang sudah menjadi pusat pemerintahan dan pusat perdangan
tersibuk pada saat itu. Letaknya yang strategis, membuatnya menjadi salah satu
kota dengan perkembangan tercepat di Indonesia. Masih ingatkah kalian wajah
Jakarta pada zaman kolonial dulu? Ya, saat itu sistem drainasenya bagus,
transportasi masal bagus, dan kebersihanpun terjaga dengan rapi. Tapi
sebagus-bagusnya Jakarta pada zaman kolonial dulu, kota ini mempunyai penyakit
yang bisa dibilang sangat klasik. Banjir. Ya, banjir. Sejak zaman dulu kota ini
memang sudah akrab dengan yang namanya banjir. Pemerintahan Hindia Belanda dulu
sempat sedikit kebingungan dalam mengatasi banjir ini. Sehingga dibuatlah
pencegah banjir yang kerjanya hampir sama seperti yang ada di kota Amsterdam,
Belanda.
Lain dulu, lain sekarang. Kota Jakarta zaman sekarang adalah sebuah kota
megapolitan yang dimana berbagai karakter manusia tinggal di kota ini. Walau
masalah banjir masih menjadi salah satu masalah klasik kota ini, muncul lagi
masalah-masalah baru yang sepertinya banyak terjadi di kota-kota besar yang ada
di dunia. Macet, pencopetan, pembunuhan, polusi kendaraan dan lainya seperti
sudah menjadi makanan sehari-hari masyarakat kota Jakarta. Semoga pemimpin kota
ini bisa mengatasi masalah-masalah tersebut.
Jakarta memang unik. Sebagai ibukota Negara, perputaran uang yang ada di
Indonesia ini 60%nya beredar di Jakarta. Sehingga tidak heran kalau Jakarta
menjadi tujuan utama harus urbanisasi dari desa ke kota yang ingin mengadukan
nasibnya di kota ini. Hal ini justru memperparah background kota Jakarta pada
umumnya. Karena saking banyaknya urbanisasi yang mengadu nasib di Jakarta,
sehingga membuat para orang-orang itu mendirikan gubuk-gubuk yang secara umum
sangat merusak pemandangan kota ini.
Dari permasalahan itulah, menjadikan Jakarta menjadi salah satu dari
sepuluh kota yang paling di benci di dunia. Jakarta di urutan kedelapan.
Sungguh memalukan bagi Indonesia. Dimana ibukota adalah pusat suatu Negara, dan
mencerminkan keadaan Negara tesebut. Namun di balik itu semua, Jakarta
menyimpan sejuta kisah yang mungkin patut kita simak. Yang pertama adalah
monas. Monumen nasional ini menjadi salah satu simbol khas Jakarta. Selain monas,
masih banyak lagi bangunan-bangunan lain yang menjadi simbol kota Jakarta.
Namun paling menarik perhatian saya adalah Bundaran Hotel Indonesia. Bundaran
yang dibangun di tengah kota Jakarta ini, jika dilihat dari sisi atas
menyerupai mata dewa Horus. Salah satu dewa bangsa Mesir kuno dulu. Sekarang
lambang ini dipakai oleh lembaga pemujaan setan yang terkenal yakni
Freemasonry. Sebenarnya tidak terlalu penting juga untuk membahas ini., tapi
saya ingin hanya sekedar member tahu kepada khalayak kalau Jakarta sebagai
ibukota Negara, mungkin merupakan pusat kebudayaan yang mempunyai keberagaman
yang besar.
Selamat ulang tahun kota Jakarta yang ke 486. Semoga menjadi kota yang
berkembang lebih baik lagi, serta dapat menyelesaikan beribu masalah klasik
yang selalu menyelimuti kota ini. Tentuya ini semua harus di dukung oleh semua
lapisan masyarakat yang ada di kota ini. Semoga Allah selalu memberkati
masyarakat yang tinggal di ibukota Negara ini. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar