Minggu, 09 Juni 2013

Bung Karno


               Sebangsat-bangsatnya Bung Karno, dia masih mempunyai satu sisi baik yang harus kita ketahui. Memang dunia mengetahui bahwa dia adalah bapak proklamator Indonesia yang penuh dengan kharismatik. Namun, bagi sebagian rakyat Indonesia di bagian barat, khususnya Aceh, Bung Karno dikenal sebagai seorang yang pembohong dan pengingkar. Saat itu Bung Karno pergi ke Aceh dengan maksud untuk membujuk Daud Beureuh supaya Aceh bergabung dengan Indonesia. Disana ia merengek dibawah ketiak Pak Daud sampai meneteskan air mata. Dengan berlinang airmata beliau berkata kepada Daud, “bang, ayolah bergabung dengan Indonesia. Saya Islam, dan abang juga Islam. Mari kita buat sebuah Negara dengan landasan Islam.” Dengan setengah percaya Pak Daud bertanya kepada Bung Karno “kami orang Aceh tidak bisa hidup tanpa landasan Islam. Kami tidak mau syariat disini dihapuskan.” Dengan percaya diri Bung Karno berkata “saya akan menjadikan Aceh sebagai daerah syariat nanti.” Sebenarnya Pak Daud masih tidak percaya dengan omongan Bung Karno. Namun karena melihat tangisan beliau seolah-olah menunjukkan keseriusan, dan akhirnya dengan sedikit berat hati beliau percaya serta bergabung dengan Indonesia.
                Namun keraguan Pak Daud dengan Soekarno selama ini ternyata benar. Tidak ada satu masapun ketika Bung Karno berkuasa daerah Aceh dijadikan daerah syariat. Bahkan perkembangannya jauh lebih parah di zaman orde baru. Yasudahlah, itu adalah masalalu. Jujur sebagai orang Aceh saya kesal dan kecewa dengan itu semua. Namun aku ingat dengan sebuah pribahasa “setiap apa yang ada di dunia ini pasti ada manfaatnya.” Begitu juga Bung Karno. Walau mayoritas rakyat Aceh atau sebagian rakyat Indonesia membencinya, namun Bung Karno mempunyai sisi baik yang jarang diketahui orang kebanyakan.
                Pada suatu masa di masa pemerintahan beliau, ia berkunjung ke negeri Beruang Merah. Saat itu beliau berkunjung kesalahsatu daerah yang bernama Saint Petersburg. Saat sedang menikmati indahnya kota Saint Petersburg dari dalam mobil, tiba-tiba beliau melihat sebuah bangunan unik dan tidak ada duanya. Lantas beliau bertanya kepada salah satu menteri Uni Soviet pada saat itu. Setelah berbincang mengenai gedung itu, diketahuilah bahwa gedung itu adalah sebuah bangunan mesjid yang dibangun oleh Peter  the Great pada abad ke 17. Namun kini telah menjadi gudang senjata bagi tentara Soviet untuk menjaga pertahanan pasca revolusi Bolshevic. Mengetahui hal itu, Soekarno langsung terbang ke Moskwa untuk bertemu presiden  Uni Soviet pada saat itu. Bung Karno meminta agar bangunan itu diubah fungsinya ke bentuk semula, yakni sebagai mesjid. Dan alhamudillah pemerintah komunis Uni Soviet mengabulkan permintaan Bung Karno itu. Seketika umat muslim yang ada di kota Saint Petersburg itu sangat senang mendengar berita bahwa bangunan itu akan berubah fungsi menjadi mesjid kembali. Jadi tak heran jika masyarakat St. Petersburg menyebut bangunan itu sabagai “Mesjid Biru Soekarno”.
                Selain di Uni Soviet, peninggalan Bung Karno tidak hanya di negeri komunis itu. Masih banyak lagi peninggalan-peninggalan Bung Karno yang ada di luar negeri. Kita ambil salah satunya adalah Mesir dan Maroko. Kita mulai dari Mesir.
                Puncak hubungan dekat diplomatik antara Indonesia dan Mesir adalah pada saat Mesir dipimpin oleh Gamal Abdel Naseer. Sudah menjadi rahasia umum, kalau Gamal Abdel Naseer dan Soekarno adalah sahabat jauh. Oleh karena itu, dijadikanlah nama sebuah jalan di kota Kairo menjadi Ahmed Soekarno St. Kata Ahmed ini sendiri diberi oleh mahasiswa Indonesia yang pada saat itu sedang menimba ilmu di bumi Piramida itu untuk mengisyaratkan agar Soekarno adalah seorang muslim. Lain di Mesir, lain juga di Maroko. Pada saat kunjungan Bung Karno ke Maroko, secara mengejutkan raja Muhammad V meminta Soekarno untuk meresmikan sebuah jalan.  Awalnya beliau tidak mengetahui nama jalannya itu. Ketika membuka teks dalam bahasa Inggris, kagetlah beliau ketika mengetahui bahwa jalan yang akan diresmikan olehnya itu adalah namanya sendiri. Itu adalah penghormatan raja Muhammad V kepada Soekarno yang pada saat itu sebagai pelopor konggres Asia Afirka yang diadakan di Bandung. Raja Muhammad V sangat mengagumi beliau.
                Sekarang adalah bulan Juni. Bulan kelahiran seorang tokoh besar Indonesia. Walaupun banyak orang yang tidak menyukai beliau, tetapi ada baiknya jika kita mengambil beberapa pelajaran baik tentang dirinya. Saya orang Aceh asli. Tidak ada niat untuk rasis disini, tetapi saya mencoba untuk melihat sisi lain dari sosok seorang Soekarno. Tak selamanya manusia itu buruk, ada satu masa dimana manusia itu dapat membuat kebajikan, baik itu untuk dirinya atau untuk orang lain dan bangsa lain yang ada di dunia ini.
                Itulah Bung Karno. Dia dipuja, dikagumi, disegani, pengagum wanita dan dibenci. Saya heran, dimana rasa perhatian pemerintah orde baru pada saat itu. Saat detik-detik Bung Karno wafat, beliau masih dijadikan sebagai tahanan kota oleh pemerintah orba. Beliau hanya terbaring lemah tanpa ada satu pejabatpun yang berkunjung walau hanya sekedar menegur. Bahkan pada saat upacara kematian beliau, tampak sekali kesan hanya sekadar berduka saja. Entahlah. Kesulitan-kesulitan pada saat beliau wafat, kuanggap sebagai penghapus dosa beliau pada masa lalu. Semoga Allah selalu memberkati beliau. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar