Sebangsat-bangsatnya
Bung Karno, dia masih mempunyai satu sisi baik yang harus kita ketahui. Memang
dunia mengetahui bahwa dia adalah bapak proklamator Indonesia yang penuh dengan
kharismatik. Namun, bagi sebagian rakyat Indonesia di bagian barat, khususnya
Aceh, Bung Karno dikenal sebagai seorang yang pembohong dan pengingkar. Saat
itu Bung Karno pergi ke Aceh dengan maksud untuk membujuk Daud Beureuh supaya
Aceh bergabung dengan Indonesia. Disana ia merengek dibawah ketiak Pak Daud
sampai meneteskan air mata. Dengan berlinang airmata beliau berkata kepada
Daud, “bang, ayolah bergabung dengan Indonesia. Saya Islam, dan abang juga
Islam. Mari kita buat sebuah Negara dengan landasan Islam.” Dengan setengah
percaya Pak Daud bertanya kepada Bung Karno “kami orang Aceh tidak bisa hidup
tanpa landasan Islam. Kami tidak mau syariat disini dihapuskan.” Dengan percaya
diri Bung Karno berkata “saya akan menjadikan Aceh sebagai daerah syariat
nanti.” Sebenarnya Pak Daud masih tidak percaya dengan omongan Bung Karno.
Namun karena melihat tangisan beliau seolah-olah menunjukkan keseriusan, dan akhirnya
dengan sedikit berat hati beliau percaya serta bergabung dengan Indonesia.
Namun keraguan Pak Daud dengan
Soekarno selama ini ternyata benar. Tidak ada satu masapun ketika Bung Karno
berkuasa daerah Aceh dijadikan daerah syariat. Bahkan perkembangannya jauh
lebih parah di zaman orde baru. Yasudahlah, itu adalah masalalu. Jujur sebagai
orang Aceh saya kesal dan kecewa dengan itu semua. Namun aku ingat dengan sebuah
pribahasa “setiap apa yang ada di dunia ini pasti ada manfaatnya.” Begitu juga
Bung Karno. Walau mayoritas rakyat Aceh atau sebagian rakyat Indonesia
membencinya, namun Bung Karno mempunyai sisi baik yang jarang diketahui orang
kebanyakan.
Pada suatu masa di masa
pemerintahan beliau, ia berkunjung ke negeri Beruang Merah. Saat itu beliau
berkunjung kesalahsatu daerah yang bernama Saint Petersburg. Saat sedang
menikmati indahnya kota Saint Petersburg dari dalam mobil, tiba-tiba beliau
melihat sebuah bangunan unik dan tidak ada duanya. Lantas beliau bertanya
kepada salah satu menteri Uni Soviet pada saat itu. Setelah berbincang mengenai
gedung itu, diketahuilah bahwa gedung itu adalah sebuah bangunan mesjid yang
dibangun oleh Peter the Great pada abad ke
17. Namun kini telah menjadi gudang senjata bagi tentara Soviet untuk menjaga
pertahanan pasca revolusi Bolshevic. Mengetahui hal itu, Soekarno langsung
terbang ke Moskwa untuk bertemu presiden
Uni Soviet pada saat itu. Bung Karno meminta agar bangunan itu diubah
fungsinya ke bentuk semula, yakni sebagai mesjid. Dan alhamudillah pemerintah
komunis Uni Soviet mengabulkan permintaan Bung Karno itu. Seketika umat muslim
yang ada di kota Saint Petersburg itu sangat senang mendengar berita bahwa
bangunan itu akan berubah fungsi menjadi mesjid kembali. Jadi tak heran jika
masyarakat St. Petersburg menyebut bangunan itu sabagai “Mesjid Biru Soekarno”.
Selain di Uni Soviet,
peninggalan Bung Karno tidak hanya di negeri komunis itu. Masih banyak lagi
peninggalan-peninggalan Bung Karno yang ada di luar negeri. Kita ambil salah
satunya adalah Mesir dan Maroko. Kita mulai dari Mesir.
Puncak hubungan dekat diplomatik
antara Indonesia dan Mesir adalah pada saat Mesir dipimpin oleh Gamal Abdel
Naseer. Sudah menjadi rahasia umum, kalau Gamal Abdel Naseer dan Soekarno
adalah sahabat jauh. Oleh karena itu, dijadikanlah nama sebuah jalan di kota
Kairo menjadi Ahmed Soekarno St. Kata Ahmed ini sendiri diberi oleh mahasiswa
Indonesia yang pada saat itu sedang menimba ilmu di bumi Piramida itu untuk
mengisyaratkan agar Soekarno adalah seorang muslim. Lain di Mesir, lain juga di
Maroko. Pada saat kunjungan Bung Karno ke Maroko, secara mengejutkan raja
Muhammad V meminta Soekarno untuk meresmikan sebuah jalan. Awalnya beliau tidak mengetahui nama jalannya
itu. Ketika membuka teks dalam bahasa Inggris, kagetlah beliau ketika
mengetahui bahwa jalan yang akan diresmikan olehnya itu adalah namanya sendiri.
Itu adalah penghormatan raja Muhammad V kepada Soekarno yang pada saat itu sebagai
pelopor konggres Asia Afirka yang diadakan di Bandung. Raja Muhammad V sangat
mengagumi beliau.
Sekarang adalah bulan Juni.
Bulan kelahiran seorang tokoh besar Indonesia. Walaupun banyak orang yang tidak
menyukai beliau, tetapi ada baiknya jika kita mengambil beberapa pelajaran baik
tentang dirinya. Saya orang Aceh asli. Tidak ada niat untuk rasis disini,
tetapi saya mencoba untuk melihat sisi lain dari sosok seorang Soekarno. Tak
selamanya manusia itu buruk, ada satu masa dimana manusia itu dapat membuat
kebajikan, baik itu untuk dirinya atau untuk orang lain dan bangsa lain yang
ada di dunia ini.
Itulah Bung Karno. Dia dipuja,
dikagumi, disegani, pengagum wanita dan dibenci. Saya heran, dimana rasa
perhatian pemerintah orde baru pada saat itu. Saat detik-detik Bung Karno
wafat, beliau masih dijadikan sebagai tahanan kota oleh pemerintah orba. Beliau
hanya terbaring lemah tanpa ada satu pejabatpun yang berkunjung walau hanya
sekedar menegur. Bahkan pada saat upacara kematian beliau, tampak sekali kesan
hanya sekadar berduka saja. Entahlah. Kesulitan-kesulitan pada saat beliau
wafat, kuanggap sebagai penghapus dosa beliau pada masa lalu. Semoga Allah
selalu memberkati beliau. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar